Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Cinta dalam Diam 2: Masih Sama

Bagian 2: sebuah kisah dalam diam lanjutan Bagian 1

"Tumben baru datang, Ca?" Aku mempercepat langkahku saat tahu dia berada di depan, berjalan sejajar dengannya, hendak memasuki gedung perkantoran ini. Basa-basi. 

"Eh?" Wanita yang tepat disampingku menoleh cepat, sepertinya aku sukses membuat dia terkejut. "Iya nih, Za, jalanan rame banget tadi. Mana sempet salah belok driver onlinenya." 

 Ya, dia adalah wanita yang sama, yang pernah aku jumpai di bangku SMA dulu. Wanita yang pernah aku idamkan. Pertemuan singkat dulu ternyata terbayar lunas dengan pertemuan kini. Setelah sekian purnama tak berjumpa, tepat 3 bulan lalu, dia kembali.

 Aku mengusap mata pagi itu saat dia menghampiri dan menugurku. Setengah mengantuk.

"Hai, kamu Reza 'kan?" Suara itu terdengar dari sisi kananku. Aku yang setengah kaget segera membenahi kacatama yang terpasang di dahi. Menoleh.

"Reza 'kan?" Dia mengulang kembali pertanyaan itu. Hei, siapa wanita yang berpakaian formal ini? Bagaimana dia bisa tahu namaku? Dahiku mulai mengerut. Aku hanya tersenyum tipis dan mengangguk perlahan. Dia menarik kursi sebelah yang masih kosong, lantas duduk. Aku yang masih bingung siapa dia, mencoba mengingat-ingat. Tapi sepertinya tak ada bayangan sama sekali.

Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Kamu pasti masih ingat ini kan?"

Boneka penyu? Ingatanku seolah menarik mundur waktu ke masa itu. Masa putih abu-abu. Tepat saat aku mendatangi rumahnya untuk pertemuan yang terakhir kali. Cinta masa SMA yang dulu pernah ada.

"Chaca?" Aku berusaha menebak, dan pasti tebakanku benar.

"Akhirnya kamu ingat juga." Dia tersenyum kecil.

"Sorry, soalnya... agak... beda." Aku memutar-mutarkan jariku di dekat dahi. Mengisyaratkan disitulah perbedaannya. Sebenarnya dia masih sama seperti dulu, berkacamata, berkulit putih, hanya saja sekarang ditambah dengan hijab yang menambah anggun parasnya. Apalagi saat dia ternyum kecil tadi, adalah kombinasi yang sempurna dari sebuah definisi kata manis. "Kamu masih nyimpen itu?"

"Ya... penyu ini yang sering menemaniku kemana pun. Bukankah penyu adalah sebuah simbol kesetiaan? Sejauh apapun dia pergi, dia akan kembali pulang, 'kan?" Dia menyodorkan tangannya. "Aku anak baru disini. Baru hari ini mulai. Dan sepertinya kita satu tim ya?"

Kami pun larut dalam obrolan mengenang masa lalu. Mulai dari setelah dia pindah, kuliahnya, hingga bagaimana dia bisa diterima di kantor konsultan finance ini. Jika dipikir-pikir lucu juga memang. Sejak Chaca pindah, tak ada komunikasi sama sekali diantara kita. Mungkin aku terlalu penakut untuk menghubunginya lebih dulu, walau hanya bertanya kabar. Aku memang bukan pembuka pembicaraan yang baik. Tapi, walaupun tak ada komunikasi selama bertahun-tahun, mengapa tiba-tiba waktu mempertemukan kami kembali? Sebuah kebetulan kah? Aku tak percaya sebuah kebetulan. Bukankah semua sudah digariskan? Entahlah, lucu, juga membingungkan? Dan aku.... hey kenapa tiba-tiba perasaan itu muncul lagi? Perasaan yang masih sama seperti dulu.

Malam harinya, aku mengabarkan kepada Dika yang kini sedang melanjutkan study-nya di negeri seberang. Dia ambisius sekali mengejar pendidikan masternya di luar negeri. Padahal dia tak pintar-pintar amat.

"Kok bisa?!!" Dika terheran di ujung telepon sana. Aku hanya terkekeh. Ya ini memang sangat mengherankan.

Sejak perkenalan pagi itu, tak sulit bagi kami untuk dekat walau dengan obrolan yang sebenarnya itu-itu saja. Obrolan basa-basi yang sangat tidak penting, masalah kerjaan, hingga membicarakan atasan dan teman kantor. Meskipun aku bukan orang yang baik untuk mengawali pembicaraan, tapi aku selalu berusaha untuk memulai. Aku tak mau saat-saat dulu terulang lagi. Meskipun untuk beberapa topik dia hanya mengiyakan saja. Entahlah mungkin tak nyaman, atau sudah tahu kalau itu hanya sekadar basa-basi saja. Aku juga sering berusaha untuk melakukan sesuatu bersama dia, mulai kunjungan ke client, mengerjakan satu-dua hal, istirahat makan siang, hingga saat pulang kantor. Seolah semua berjalan tanpa disengaja. Entahlah.

"Tapi lu masih nyimpen rasa kan sama dia?" ujar Dika melalui telepon malam itu. Aku hanya terdiam. "Lu ungkapin aja kali. Heran dah, daridulu nggak pernah berubah."

"Tapi, kalau ternyata dia nggak punya perasaan yang sama, semua bakal berubah nggak sih? Semua bakal awkward, canggung, nggak sama lagi. Semua bakal...."

"Tapi kalau dia punya rasa yang sama?" Dika memotong pembicaraanku. "Kenapa nggak lu coba dulu? Mau sampai kapan lu diam-diam terus gini?"

Aku hanya menghela nafas.

Tiga bulan berlalu sejak pertemuan itu. Kami masih sering ngobrol hal-hal yang biasa-biasa saja, ataupun hanya sekadar basa-basi, seperti pagi ini.

"Yang penting kan bisa nyampai tepat waktu juga." Aku melanjutkan basa-basi itu.

"Iya sih," jawabnya singkat.

Ya, Semua seolah berjalan tak ada apa-apa. Tak ada yang perlu di-apa-apa-kan bukan? Aku suka dengan kami yang sekarang. Aku juga bahagia dengan keadaan sekarang. Dia selalu membawa keceriaan dengan cara sederhana. Biarkan semua berjalan sebagaimana mestinya saja, walau aku pun tak tahu bagaimana kelanjutannya. Semesta pasti punya cara dan jalannya sendiri.

Cerpen Humor Cinta: Saat Cinta, Tai Kucing Rasa Coklat

Romance Story and Love
Cinta Memang Tak Ada Logika (sumber: pxhere)
Kata orang cinta itu perasaan yang membuat insan nyaman. Saat cinta itu datang, apapun pasti dilakukan. Ya, seperti itulah. Kalau kata Gombloh, Cinta itu Tai Kucing Rasa Coklat. Kalau Agnez Mo bilang, Cinta itu Tak Ada Logika. Ada juga yang bilang kalau cinta itu buta. Ya, seperti itulah cinta. Membuat segalanya pantas untuk dilakukan, tanpa tahu apa yang sebenarnya dilakukan. Ha ha ha, cinta....
***
“Tapi Ve, gue masih sayang sama lu. Gue cinta sama lu, Ve!” pekik gue, memegangi lengan Vella.
“Sayang?! Lu bilang lu sayang?!” Vella membalikkan badan. “Kalau lu sayang harusnya lu nggak kayak gini! Lepasin tangan gue!”
“Tapi Ve…”
“Lepasin!” Ve pun balik badan, menghempaskan tamparan keras tepat mengenai pipi kiri gue, lekas pergi meninggalkan gue tanpa ucapan selamat tinggal, lambaian tangan apalagi.
Sejak tragedi malam tadi itu gue benci sama yang namanya cinta. Gue benci sama yang namanya sayang. Ah, apaan itu sayang, cinta?! Bullshit. Ve selalu bilang sama gue kalau dia nggak bakal putusin gue karena dia sayang sama gue. Tapi, apa, hah?! Gue nggak salah apa-apa tiba-tiba diputusin. Ah, persetan dengan cinta!!
Hari ini adalah hari pertama gue benci sama yang namanya cinta. Harusnya, hari ini berjalan normal, seperti biasa. Ternyata tidak. Gue hampir saja mukul orang lain karena emosi. Bukan karena Ve. Kalau masalah putus cinta saja gue udah nggak kaget. Tapi gue emosi karena ada sepasang sosok manusia aneh, bilang saling cinta, tapi… ah….
Pagi itu gue bersiap berangkat kuliah seperti biasa. Seperti biasa pula gue cari sarapan di luar kosan. Lagi-lagi seperti biasa pula gue pilih tukang bubur ayam. Hidup gue memang biasa. Monoton.
“Bang, biasa! Kerupuknya tambahin dikit!” pesan gue pada penjual bubur ayam langganan gue. Meski gue sudah langganan sama dia, gue selalu manggil ‘bang’. Gue nggak pernah manggil dia ‘sayang’. Serius!
Tiba-tiba datang sosok yang membuat gue merinding. Lantas gue hentiin makan gue. Terbengong seketika melihat cowok yang menggandeng tangan cewek itu. Sepertinya mereka anak SMA yang akan berangkat sekolah. Terlihat dari putih abu-abu yang mereka kenakan.
“Sayang, kita sarapan di sini aja, ya?” ujar cowok itu.
Dengan manja nan genit, cewek itu menjawab, “Terserah ayang aja deh, yang penting bisa sama ayang terus.”
Suer, hampir muntah dengar kalimat itu. Kalau dihadapan gue hanya ada mangkuk kosong, mungkin udah gue muntahin di sana. Tapi ini bubur gue. Masa gue mau makan muntahan gue sendiri?!
“Eh, sayang, tapi kita pesannya satu aja ya, nanti kita suapan biar romantis gitu,” sambung cowok itu. Cewek itu mengangguk cepat.
Seketika gue merasa mual banget dengar kalimat itu. Gue percepat makan gue. Lantas meninggalkan abang tukang bubur itu.
Hello, woy bocah, percuma kalian pacaran kalau kalian masih belum bisa bedain mana yang pelit dan mana yang romantis. Beli bubur harga tujuh ribu aja masih semangkuk berdua. Masa kalah sama gue yang anak kosan. Hiks.
Gue prihatin. Seumur-umur, selama pacaran, kayaknya gue nggak pernah gitu.
Rasa mual gue mereda setelah jauh dari pasangan anak alay labil itu. Syukurlah mereka nggak ngikutin atau curigain gue. Sepertinya juga tadi gue nggak dianggep ada.
Perjalanan gue ke kampus ternyata penuh dengan liku-liku perjalanan yang terjal. Kini, disaat gue akan menyeberang, gue melihat sepasang sosok bocah yang lagi-lagi bikin gue mual sekaligus emosi.
“Sayang, ini ‘kan mobilnya dari kanan, bagaimana kalau aku aja yang di kanan?” cowok itu menawarkan cewek disebalahnya bertukar posisi.
“Lho? Kok gitu, sayang?” tanya polos cewek berambut lurus itu.
“Biar kalau ada mobil, aku aja yang ketabrak. Aku nggak mau kamu kenapa-kanapa sayang!”
Woy lap ingus, percuma kalian pacaran kalau nggak tahu rumus fisika dasar. Emang tubuh lu terbuat dari baja tebal semeter apa?! Dimana-mana kalau lu ketabrak, cewek lu juga bakal nyungsep di kap mobil atau nyantol di stang motor.
Gue prihatin. Seumur-umur, selama pacaran, kayaknya gue nggak pernah gitu.
Lagi-lagi gue merasa mual oleh kalimat itu. Ingin gue tonjok muka cowok itu. Untungnya gue masih bisa tahan emosi. Beruntung lu, bocah!
Akhirnya setelah gue lewati halang rintang yang cukup berat hingga membuat gue mual parah, gue sampai di kampus. Untungnya selama di kampus tak ada hal aneh seperti yang gue temuin di jalan tadi. Syukurlah!
Mata kuliah pertama selesai. Sukses terlewati dengan sebungkus kuaci. Maklum sajalah, mahasiswa kayak gue mana tahan sama mata kuliah Kewarganegaraan, apalagi kelas pagi. Bukannya pelajaran itu masuk ke pikiran gue, yang ada malah jadi ngantuk berat.
Untungnya mata kuliah yang kedua dibatalkan karena dosen yang pergi ke antah berantah. Syukurlah gue bisa pulang lebih awal. Namun, gue tak lekas pulang. Gue sempatin ke sebuah resto deket kampus gue untuk makan siang. Gue harap nggak ada lagi sosok yang menyebut pelit dengan romantis.
Benar memang tak ada pelanggan yang memesan satu mangkuk untuk berdua. Sayangnya, kemuakan gue semakin menjadi di sini. Setelah gue memesan satu mangkuk soto, gue milih tempat duduk yang kosong di kantin nomor lima itu. Masalahnya hanya tersisa satu meja kosong.
Gue mulai melahap habis soto yang masih setengah panas itu. Ditemani es jeruk dengan warna kuning menantang di hadapan gue. Gue nggak sadar jika di meja sebelah gue ada sosok pasangan yang menurut gue aneh. Dan gue prediksi lagi-lagi ini bocah SMA. Mereka nggak sekolah?!
“Mah, mau nambah? Kalau mau aku pesanin lagi ya?!” cowok berkaca-mata itu berdiri dari bangkunya, menunjuk tempat Bu Mira, penjual makanan di kantin ini.
“Nggak, pah! Mamah udah kenyang kok,” ujar cewek itu sembari memegang perutnya.
Gila! Belum habis isi mangkuk gue, tiba-tiba gue merasa mual. Dan parahnya rasa mual ini lebih dari dua rasa mual yang sebelumnya gue rasain. Parah!
Lekas gue berdiri dan lari, meninggalkan mangkuk soto gue yang masih tersisa seperempat dan es jeruk gue yang tinggal seperlima gelas. Lantas membayar kepada Bu Mira.
“Mas, itu kok nggak dihabisin sekalian? Buru-buru ya?” tanya Bu Mira sambil memberikan kembalianku.
Eee…, iya, Bu!” jawab gue singkat. Lekas gue berlari keluar kantin.
Woy kulit kuaci, sejak kapan kalian sudah nikah? Sudah punya anak berapa? Kalian pikir ‘mamah-papah’an kayak begitu enak didengar? Terus kalau kalian putus, kalian harus ngurus surat ke pengadilan dulu gitu? Terus anaknya ikut siapa? Harta gono-gininya gimana? Terus kalau masih pacaran manggilnya ‘mamah-papah’an, kalau udah putus manggil ‘duda-janda’an? Janda, mau nambah nggak? Nggak duda, aku masih kenyang.
Gue prihatin. Seumur-umur, selama pacaran, kayaknya gue nggak pernah gitu.
Gue pun menjauh dari tempat menyeramkan itu, bergegegas pulang menuju kosan. Berhubung gue trauma lewat jalan ketika gue berangkat tadi, gue memutar ke jalan yang lain. Lebih panjang memang. Waktu termpuh hingga tiba di kosan gue pun lebih lama. Tak apa untuk menghindari rasa mual gue seperti pagi tadi.
Karena cuaca sang mentari kian terik, gue berhenti di salah satu taman pinggir jalan. Kebetulan di sana teduh. Apalagi ada pedagang es degan. Aduh, segar menggelegar di tenggorokan yang tengah gemetar kekeringan.
Lekas gue pesen satu gelas dan duduk di bangku taman.
“Sayang lihat deh bunga itu! Indah ya?!” Gue terdiam, menengok sebelah gue yang lagi-lagi muncul sosok ABG labil berseragam sekolah menengah atas sedang bermesraan. Cewek itu malah menyandarkan kepalanya di pundah cowoknya. Ini kenapa anak sekolah pada kelayapan?!
“Iya, sayang, indah benget!” jawab cewek itu. “Kalau aku jadi bunga itu, kamu jadi apa, say?”
“Aku jadi kumbangnya.”
Setelah dengar kalimat itu, reflek gue terbatuk-batuk.
“Kenapa, mas?” tanya cowok di sebelah gue. Tak khayal, kini semua mata tertuju pada gue seorang.
“Nggak apa-apa mas. Cuma tersedak kelapanya,” jawab gue malu. Padahal gue tersedak karena dengar kalimat itu.
“Maaf, mas, kelapanya kegedean ya?” sambung pedagang itu.
“Nggak, Bu. Cuma saya yang terburu-buru.” Gue pun senyum garing dihadapan sepasang sosok ABG yang duduk di samping gue dan ibu penjual degan.
Akhirnya gue putusin untuk cepat menghabiskan es degan di tangan gue, membayar, dan cepat-cepat pulang ke kosan.
Woy pipisnya kumbang, percuma kalian pacaran kalau nggak tahu hukum biologi dasar. Dimana-mana kumbang yang kawin sama kumbang, bunga sama bunga. Nggak ada kumbang sama bunga. Gue nggak pernah kebayang anaknya apa antara perkawinan bunga dan kumbang. Apa tubuhnya kumbang tapi kepalanya bunga gitu?
Gue prihatin. Seumur-umur, selama pacaran, kayaknya gue nggak pernah gitu.
Untunglah saat perjalanan dari taman menuju kosan. Lekas gue masuk kamar dan berbaring di tempat tidur gue.
Mengapa ABG zaman sekarang aneh ya? Ada yang sok romantis pakai satu mangkuk berdua. Padahal dia pelit. Ada yang gagap fisika dasar. Ada yang ‘duda-janda’an. Ada yang lagi bereksperimen kawinin kumbang sama bunga. Ah, gue bingung.
Emang bener kata Bang Gombloh. “Dikala cinta, tahi kucing rasa coklat.” Juga mbak Agnez, “Cinta tak ada logika.”
Akhirnya gue mutusin untuk bersikap tak acuh dengan peristiwa itu. Gue lupain semua tentang hari ini –termasuk tentang mata kuliah kuaci gue. Semua gue lupain. Gue nggak mau gila gara-gara mikir benda nggak jelas yang disebut cinta itu.
Sore hari, gue coba buka akun media sosial gue. Bosen dengan instagram, gue coba buka facebook yang sebenernya udah lama gue tinggalin. Siapa tahu gue bisa lupa total dengan hal yang memuakan sekaligus buat gue mual dan mulas. Akan tetapi bukannya lupa malah semakin menjadi.
Ketika gue buka facebook, yang pertama muncul adalah status dari ‘Chietrha chii Chwekx Chiimoetsz’. Anj…, apaan tuh bacanya?! Gue nggak inget sejak kapan gue berteman sama makhluk astral kayak gitu.
Lihat juga statusnya (yang ini gue masih bisa baca); “ghue cuayank elhoe, Kebooo”.
Lihat juga di kolom komentarnya. Sepertinya si Kebo komen tuh. “Akuu jg Keliiinciii”.
Itu maksudnya apa coba? Sayang sama kebo? Terus ada kelinci juga. Maksudnya apa coba?!
Terus komentar selanjutnya; si kelinci komen lagi, “Akoe cuayank kamoo, akoe gak bissaa hiduupp tanpha moeeuu”.
Woy eek kebo, kalian mau melihara hewan?! Manggil aja kebo-kelinci. Lu pikir ini kebun binatang?! Terus si kebo mau lu suruh bajak sawah? Si kelinci jadi bahan tukang sulap? Jangan salahin gue ya, kalau si kebo gue jadiin hewan kurban! Terus yang kedua apa? Nggak bisa hidup tanpa dia? Sejak kapan hidup kelinci bergantung pada kebo? Terus kalau kisah percintaan yang alay ini berakhir? Kalian bakal mati? Mati aja sana!
Gue prihatin. Seumur-umur, selama pacaran, kayaknya gue nggak pernah gitu.
Malam hari, di kosan. Saatnya gue ngerjain tugas mata kuliah gue. Walau gue sering ngantuk di kampus, tapi gue masih ingat tugas dan kewajiban gue. Meski ngantuk juga ngerjain tugas kayak gini.
“Val, mantan lu tuh!” Raka memecahkan keheningan dan keseriusan gue dalam mengerjakan tugas ini –padahal gue ngerjain tugas sambil dengerin lagu The Chainsmokers kesukaan gue.
“Hah?!” Gue terkejut, setengah tidak dengar. Gue lepas earphone gue.
“Gue ketemu sama mantan lu tadi. Dia nungguin lu di depan gang. Katanya dia udah beberapa kali chat WA lu tapi nggak lu bales. Dia takut kemari. Katanya nggak enak sama kita-kita.”
Gue segera cek delapan WA di handphone yang gue silent dari tadi. Lekas gue keluar kosan, menuju depan gang.
Benar saja, ternyata Ve sudah menunggu di atas motor matic-nya.
“Ngapain?” tanya gue dingin padanya. Gue pasang muka keren. Asli, kalau masang muka kayak gini kegantengan gue nambah 0,021%.
Seketika dia turun dari motornya dan meluk gue. Sambil nangis dia berkata, “Valdy, maafin gue. Gue selama ini salah nilai lu, Val! Ternyata lu adalah cowok yang gue sayangi. Ternyata gue nggak bisa hidup tanpa lu, Val! Maafin gue, Val!”
Gue masih pasang muka keren.
“Val!” lanjutnya, “Lu mau kan nerima gue lagi? Lu mau kan maafin gue? Gue pengin kayak dulu lagi, Val! Gue pengin manggil lu dengan ‘papah’ lagi, Val! Gue kangen dipanggil ‘mamah’. Gue juga pengin makan romantis semangkuk berdua. Gue kangen gombalan lu lagi, Val. Gue rindu gombalan bunga-kumbang lu, Val!
“Gue kangen perlindungan lu setiap kita menyebrang jalan bareng. Lu selalu pindah ke sisi dekat mobil, biar gue nggak kenapa-kenapa. Apa kamu nggak ingat, Val, saat kita asyik balas komentar di facebook dengan panggilan sayang kebo dan kelinci? Gue rindu itu semua, Val. Rindu dengan apa yang kita lakuin dulu.”
Hah?!
***

Phrase of Love

.....

Tapi satu jam telah berlalu. Shandi masih bingung dengan hadiah untuk sang kekasih, Tiara. Tak jarang dia harus keluar masuk toko dengan tangan hampa. Kosong. Namun, tiga puluh menit kedua berlalu, semburat pelangi menghias imajinasi, menjadikan inspirasi.Tanpa pikir panjang, Shandi masuk ke dalam toko itu. Lantas berlari menuju lantai dua toko. Diambilnya barang itu, lekas membayar di kasir. Shandi pun tersenyum manis, seakan dia mendapat harta karun terbesar dalam hidupnya.

Keeseokan harinya, malam hari. Shandi telah menanti Tiara di salah satu restoran ternama di kota. Disiapkannya alunan merdu dari biola musisi restoran. Terlihat pula dua buah lilin menhias meja. Indahnya bunga mawar tak terhindar dari pandangan. Indah. Shandi pun telah siap dengan hadiahnya. Jas hitam pekat, celana hitam kelam, dengan baju warna putih dan celana kupu-kupu merah menambah keistimewaan hari ini.  Malam ini pun akan menjadimalam yang panjang.

Tak lama, Tiara datang dengan pakaian yang terkesan sederhana, meneteng tas berisi perlengkapan balet. Tanpa aba-aba, musisi restoran memainkan biola dengan nada romantis. Shandi berlutut perlahan di depan Tiara yang terdiam seribu bahasa di depan pintu. Dikeluarkan hadiah spesial itu. Sepasang sandal berwarna putih dengan hiasan kelapa panda. Tiara mengerutkan dahi. Lantas Shandi mengeluakan surat berisi: Tiara, sungguh aku tak dapat berhenti mencintaimu. Aku akan menyayangimu seumur hidupku, menjagamu dengan kemampuanku. Sengaja kuberikan sandal ini untukmu. Karena aku ingin memulai dan merajut hidup ini bersamamu dari bawah. Menghiasi hidup dengan kesederhaan yang indah. Dibalut cinta dan kasih di dalamnya. Maukah kau menjadi pendamping hidupku? Usai membaca surat itu, Tiara terkejut melihat Shandi membuka box beludru berisi cincin.

Puisi Habibie Untuk Ainun

http://klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2012/12/17/128145/540x270/adegan-habibie-dan-ainun-yang-bikin-sby-dan-ibu-ani-menangis.jpg
Mantan Presiden RI Bacharuddin Jusuf Habibie menulis beberapa kalimat puitis mengenang 1.000 hari wafatnya mantan ibu negara Hasri Ainun Habibie binti Mohamad Besari di Jakarta, Jumat (15/2). Berikut ungkapan cinta Habibie yang diberi judul Seribu:

SERIBU

Sudah Seribu hari Ainun pindah ke dimensi dan keadaan berbeda. Lingkunganmu, kemampuanmu, dan kebutuhanmu pula berbeda. Karena cinta murni, suci, sejati, sempurna dan abadi tak berbeda. Kita tetap manunggal, menyatu dan tak berbeda sepanjang masa.

Ragamu di Taman Pahlawan bersama Pahlawan bangsa lainnya. Jiwa, roh, bathin dan nuranimu menyatu denganku. Di mana ada Ainun ada Habibie, di mana ada Habibie ada Ainun. Tetap manunggal dan menyatu tak terpisahkan lagi sepanjang masa.

"Titipan Allah bibit cinta Ilahi pada tiap insan kehidupan di mana pun. Sesuai keinginan, kemampuan, kekuatan dan kehendak-Mu Allah. Kami siram dengan kasih sayang, cinta, iman, taqwa dan budaya Kami, Yang murni, suci, sejati, sempurna dan sbadi sepanjang masa.

Allah, lindungi kami dari godaan, gangguan mencemari cinta kami. Perekat kami menyatu, manunggal jiwa, roh, bathin dan nurani kami. Di mana pun, dalam keadaan apa pun kami tetap tak terpisahkan lagi.

Seribu hari, seribu tahun, seribu juta tahun ........... sampai akhirat !

Bacharuddin Jusuf Habibie
Jakarta, 15 Febuari 2013

Peringatan 1.000 hari wafatnya Ainun berlangsung di kediaman Habibie, Jl. Patra Kuningan XIII, Jakarta Selatan. Acara diawali ibadah sholat Magrib berjamaah dilanjutkan dengan pembacaan surat Yasin.

Namun suasana kediaman BJ Habibie sudah ramai sejak pukul 17.00 WIB. Deretan mobil terparkir di samping pagar rumah Presiden ketiga RI itu. Tamu yang hadir secara bergantian mengisi buku tanda kehadiran yang disiapkan di dekat pintu gerbang.

Beberapa tokoh yang hadir di antaranya mantan Wakil Presiden Tri Sutrisno, mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Indonesia Rahardi Ramelan, mantan Menteri Negara BUMN Tanri Abeng, Letnan Jenderal TNI (Purn) Abdullah Mahmud Hendropriyono, serta beberapa tokoh lain dan publik figur. Habibie yang mengenakan baju muslim putih-putih, terlihat terus menebarkan senyum, sambil menghampiri dan menyalami satu per satu tamu yang hadir dan sesekali berbincang dengan beberapa tokoh yang hadir.

[sumber]

Tataplah Wajah Orang Yang Anda Sayangi Saat Tidur [Renungan]

http://images.timurcahaya.multiply.com/image/3/photos/67/500x500/1/1.JPG?et=zp2lYx6LyQXCqBXL3zV2yA&nmid=349905646
Assalamualaikum Wr. Wb.
Lama nih nggak update posting, maklum kemarin admin lagi sibuk buat persiapan PTA (Penerimaaan Tamu Ambalan). Berhubung PTA sudah selesai, jadi update lagi nih. Saat PTA, admin mendapatkan banyak kegiatan dan pengalaman yang mengesankan. Mulai hal yang lucu, asyik, berkesan, hingga mengharukan. Hal yang paling mengharukan ialah saat acara renungan malam.

Acara dimulai pukul 03.00 pagi dimana hanya ditemani udara dingin yang menyengat kulit dibawah langit yang sedikit mendung dan diterangi cahaya lilin yang membuat suasana semakin berkesan. Dengan mata ditutup dengan kacu leher pramuka, peserta PTA hanya mengikuti aba-aba dari pendamping untuk menuju tempat renungan yang berkesan itu. Tak ada suara saat itu, sunyi senyap, hanya suara pelaksana yang membacakan sebuah renungan yang amat dalam dengan suasana tersebut. Berikut renungan tersebut, cobalah anda renungkan ini.
Pernahkah menatap orang terdekat ketika sedang tidur?
kalau belum cobalah sekali saja menatap mereka saat sedang tidur.
saat itu yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang.

Seorang aktris yang ketika di panggung begitu cantik dan gemerlap pun bisa jadi akan tampak polos dan jauh berbeda jika ia sedang tidur.

orang paling kejam di dunia pun jika ia sudah tidur tak akan tampak wajah bengisnya.

Perhatikanlah ayah anda saat beliau sedang tidur.
sadarilah betapa badan yang dulu kekar dan gagah itu kini semakin tua dan ringkih.

Betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya

Betapa kerut merut mulai terpahat di wajahnya

Orang inilah yang tiap hari bekerja keras untuk kesejahteraan kita anak-anaknya.
Orang inilah yang rela melakukan apa saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita lancar.

Sekarang beralihlah, lihatlah ibu anda

hmm… kulitnya mulai keriput dan tangan yang dulu halus membelai-belai tubuh bayi kita, kini kasar karen terpaan hidup yang keras.

Orang inilah yang tiap hari mengurus kebutuhan kita, orang inilah paling rajin mengingatkan dan mengomeli kita semata-mata karena rasa kasih dan sayang.

Dan sayangnnya itu sering kita salah artikan

Cobalah menatap wajah orang-orang tercinta itu

Ayah, ibu, suami, istri, kakak, adik, anak, sahabat…
semuanya…

Rasakanlah sensasi yang timbul sesudahnya,
Rasakanlah energy cinta yang mengalir pelan-pelan saat menatap wajah lugu yang terlelap itu.
Rasakanlah getaran cinta yang mengalir deras ketika mengingat betapa banyaknya pengorbanan yang telah dilakukan orang-orang itu untuk kebahagiaan kita.

Pengorbanan yang kadang tertutupi oleh kesalahpahaman kecil
yang entah kenapa selalu saja nampak besar.

Secara ajaib Tuhan mengatur agar pengorbanan itu bisa Nampak lagi melalui wajah-wajah jujur mereka saat sedang tidur

Pengorbanan yang kadang melelahkan namun enggan mereka ungkapkan.

Dan ekspresi wajah ketika tidur pun mengungkap segalanya
tanpa kata tanpa suara dia berkata “betapa lelahnya aku hari ini”

Dan penyebab lelah itu, untuk siapa dia berlelah-lelah tak lain adalah kita.

Suami yg bekerja keras,mencari nafkah, istri yg bekerja keras mengurus dan mendidik anak juga rumah.
kakak, adik, anak dan sahabat yang telah melewatkan hari-hari suka dan duka bersama kita.

Resapilah kenangan-kenangan manis dan pahit yang pernah terjadi dengan menatap wajah-wajah mereka.

Rasakanlah betapa kebahagiaan dan keharuan seketika membuncah
jika mengingat itu semua.

Bayangkanlah apa yang akan terjadi jika esok hari mereka orang-orang terkasih itu tak lagi membuka matanya
Selamanya…
Cobalah anda renungkan

Arti Cinta Menurut Para Ahli Di Bidangnya (Special Velentine)

Special Valentine nih, saya mau bagi-bagi artikel alias memposting artikel yang berkenaan dengan cinta. Setelah memposting mengenai Arti "First Love" (Cinta Pertama) Menurut Para Tokoh Dunia, kali ini saya memposting pernyataan C.I.N.T.A menurut para ahli di bidangnya. Berikut ini pernyataan C.I.N.T.A menurut para ahli.

Surat Cinta Seorang Hacker

Kembali lagi bersama Ahsan. Kali ini saya akan membahas seperti judul di atas.
Pasti sebagian dari anda pernah menulis surat cinta kepada pasangan. Namun pernahkan anda berfikir bagaimana surat cinta seorang hacker? Berikut ini surat cinta dari seorang hacker: