Tampilkan postingan dengan label komedi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komedi. Tampilkan semua postingan

Akhirnya, Sandal Jepit Punya Buku Baru --Setelah Hiatus Berwindu-windu

Lagi-lagi gue gagal menuhin target gue buat selalu update blog ini. Nggak terasa, sekitar 3 bulan lebih gue nggak update. Kesibukan di dunia nyata ternyata lebih sibuk dari yang gue bayangin. Jadi, gue mau minta maaf aja nggak ada yang baru di blog ini dan buat kalian nunggu lama (kayak ada yang nungguin aja ya, guenya aja nggak pernah ada yang nungguin. Plak!).

Post kali ini gue cuma mau sharing aja sih, sekalian ngiklan. Jadi, selama hiatus beberapa bulan belakangan ini gue bener-bener berhasil ngelarin project kecil-kecilan gue. Ya, gue berhasil nerbitin buku "Sandal Jepit". Sebenarnya project ini sudah lama sekali dimulai. Kurang lebih lima atau enam tahun yang lalu. Bayangin aja, pemilu aja kalah! Plak!

Project ini dimulai saat gue masih SMA (kalau nggak salah) --yang jelas sebelum blog ini bertransformasi ganti nama jadi "Sandal Jepit", dan buku itu juga yang menginspirasi gue buat ngasih nama blog ini sesuai project itu. Ya, gue iseng nulis buku. Ceritanya, novel gitu. Ceritanya lagi, novel romance-comedy. Buku ini sebenarnya sudah selesai dari beberapa tahun yang lalu, entah karena ada satu dua hal akhirnya terlupakan begitu aja. Sedih juga ya.

Singkat cerita akhirnya, tahun ini --tepatnya bulan lalu (saat post ini ditulis)-- buku ini berhasil terbit juga. Oke langsung aja nih penampakan cover bukunya.

Sandal Jepit
Cover buku Sandal Jepit

Gimana keren nggak covernya? Jelas dong. 'kan bukan gue yang nge-desain. Plak!

Kok covernya warnanya cerah banget?
Kok gambarnya dua cowok? Katanya romance? Hombreng ya, cin?
Kok judulnya "Sandal Jepit"? Kenapa nggak "Sepatu" atau "Pantofel"?
Ceritanya tentang apaan, sih?
Itu kacamatanya minus berapa? 
Itu jenis tanaman apa sih?

Kalau disuruh jawab, gue juga bingung sih. Iya ya, kenapa warnanya cerah ya, kenapa nggak gue kasih judul "Pantofel" yang lebih keren, elegan gitu. Nah itu gue juga bingung. Biar nggak pada bingung berjamaah, nih gue kasih bocoran dikit ya.

Sandal Jepit

Judul Buku : Sandal Jepit: Karena Urusan Pacar Bisa Diatur
Penerbit : Ellunar
Tahun Terbit : November 2018
Jumlah Halaman : 215 Halaman
ISBN : 978-602-5938-51-1

Sinopsis:
Adit. Cowok mirip Suneo yang punya bakat telat masuk sekolah ini galau habis karena nggak pernah punya pacar. Predikat jomblo sudah lama ia sandang. Sedangkan Yoga, sahabat gilanya setidaknya pernah pacaran sekali.
Dengan tekad yang kuat, ditambah bantuan Yoga yang alay berat, Adit memutuskan untuk mencoba segala cara yang diberikan Yoga, sohibnya sejak zaman baheula padanya. Kejadian demi kejadian nggak waras menimpa Adit dan berimbas ke Yoga. Entah trik macam apa lagi agar Adit punya pacar, sayang semuanya nggak pernah berhasil dicoba. Adit udah pasrah. Satu-satunya yang lekat kayak lem cuma persahabatan mereka.
Sampai di suatu ketika, Adit menemukan cewek cantik adik tingkat. Adit yang sudah menetapkan pilihan, memutuskan untuk mendekati dan menjalin hubungan. Tetapi bagi Yoga, ada yang aneh dengan persahabatan mereka. Benarkah Yoga merasa pertemanan mereka baik-baik saja setelah Adit menautkan tambatan hatinya?
* Sandal Jepit *
“Sandal jepit kalau yang satu ilang, yang satu udah nggak ada gunanya. Dan mendingan sandal itu lusuh, daripada ilang sebelah, kan? persahabatan juga kayak gitu. Mending lusuh, sampai aki-aki, daripada yang satu harus pergi.”
-Adit-

Nah gimana? sudah bisa nebak, belom inti ceritanya?
Masih belom? Ya sudah ini gue kasih bocoran satu bab.

Akhirnya...., setelah melewati perjalanan panjang mendaki lembah lewati gunung, setelah bersemedi di goa, buku ini akhirnya terbit. Yay.....
Naskah buku ini sebenarnya udah gue tulis lama, kira-kira lima sampai empat tahun lalu. Kalau diibaratkan naskah buku ini adalah anak. Sekarang dia udah sekolah di Taman Kanak-Kanak. Oke fix, ternyata gue udah menua. Skip.
Buku ini gue kasih nama Sandal Jepit, yang entah gue sendiri juga bingung kenapa gue kasih nama itu. Tapi santai aja, isi buku ini bukan galeri foto-foto sandal jepit di seluruh dunia ataupun tips dan trik merawat sandal jepit yang benar. Bukan. Buku ini berisi tentang sebuah kisah asmara percintaan, ya bisa dibilang romance.
Bagi banyak orang, romance itu pasti kaitannya sama lawan jenis. Buku ini beda, man. Romance bukan hanya soal kisah asmara dua orang sejoli beda jenis kelamin yang lagi alay-alay-nya begitu, tapi juga soal sahabat. Yaps, buku ini berisi kisah romance pertemanan antar anak manusia, yang disertai bumbu-bumbu komedi khas persahabatan.
Karena buku ini udah gue tulis lama, maka setting pelengkap cerita ini juga bakalan ngajak kalian, wahai generasi senior yang matang (read: generasi tua) untuk bernostalgia. Cocok buat kalian yang kangen persahabatan tempo doeloe.
Oke, daripada kepanjangan curhatan gue, terakhir, gue mau ngucapin makasih banget buat semua pihak yang udah terlibat langsung maupun tidak langsung dalam penyelesaian buku ini. Makasih juga buat yang udah mau baca tulisan gue. Gue tunggu review¬-nya ya!
Terakhirnya terakhir, gue juga minta maaf kalau ada kesalahan apapun dalam buku ini. Gue minta maaf kalau ada komedi yang agak jorok, karena sebenarnya itu hanya buat lucu-lucuan.
Yang terakhirnya terakhir banget, setelah baca buku ini, ingat sahabat-sahabat kalian dulu. Inget orang-orang yang pernah ada saat kalian senang maupun susah, dulu. Hubungi dia, sms dia, chat dia, Line dia, WhatsApp dia, dan bilang “WOI, BAYAR UTANG-UTANG LO!”

Selamat Membaca!

Itu bab apaan dah? mana ceritanya?
Iya itu bab curhatan gue, yang biasanya ada di sebelum daftar isi. Haha...

Oke daripada penasaran lebih jauh, biar bisa jawab pertanyaan-pertanyaan calon mertua di atas, bisa langsung order aja di:

LINE : @ellunar
WA : 089685309651

Oh ya, buku ini hanya dijual secara online teman-teman, jadi maaf kalau nyari di toko buku nggak ada. Gue juga pengin dicariin. Jadi pesannya via online di LINE@ atau WhatsApp ya.

Gue berharap banget lho kritik dan sarannya. Gue paling suka sesi ala-ala netizen, jadi gue tunggu, gaes!

Cerpen Humor Cinta: Saat Cinta, Tai Kucing Rasa Coklat

Romance Story and Love
Cinta Memang Tak Ada Logika (sumber: pxhere)
Kata orang cinta itu perasaan yang membuat insan nyaman. Saat cinta itu datang, apapun pasti dilakukan. Ya, seperti itulah. Kalau kata Gombloh, Cinta itu Tai Kucing Rasa Coklat. Kalau Agnez Mo bilang, Cinta itu Tak Ada Logika. Ada juga yang bilang kalau cinta itu buta. Ya, seperti itulah cinta. Membuat segalanya pantas untuk dilakukan, tanpa tahu apa yang sebenarnya dilakukan. Ha ha ha, cinta....
***
“Tapi Ve, gue masih sayang sama lu. Gue cinta sama lu, Ve!” pekik gue, memegangi lengan Vella.
“Sayang?! Lu bilang lu sayang?!” Vella membalikkan badan. “Kalau lu sayang harusnya lu nggak kayak gini! Lepasin tangan gue!”
“Tapi Ve…”
“Lepasin!” Ve pun balik badan, menghempaskan tamparan keras tepat mengenai pipi kiri gue, lekas pergi meninggalkan gue tanpa ucapan selamat tinggal, lambaian tangan apalagi.
Sejak tragedi malam tadi itu gue benci sama yang namanya cinta. Gue benci sama yang namanya sayang. Ah, apaan itu sayang, cinta?! Bullshit. Ve selalu bilang sama gue kalau dia nggak bakal putusin gue karena dia sayang sama gue. Tapi, apa, hah?! Gue nggak salah apa-apa tiba-tiba diputusin. Ah, persetan dengan cinta!!
Hari ini adalah hari pertama gue benci sama yang namanya cinta. Harusnya, hari ini berjalan normal, seperti biasa. Ternyata tidak. Gue hampir saja mukul orang lain karena emosi. Bukan karena Ve. Kalau masalah putus cinta saja gue udah nggak kaget. Tapi gue emosi karena ada sepasang sosok manusia aneh, bilang saling cinta, tapi… ah….
Pagi itu gue bersiap berangkat kuliah seperti biasa. Seperti biasa pula gue cari sarapan di luar kosan. Lagi-lagi seperti biasa pula gue pilih tukang bubur ayam. Hidup gue memang biasa. Monoton.
“Bang, biasa! Kerupuknya tambahin dikit!” pesan gue pada penjual bubur ayam langganan gue. Meski gue sudah langganan sama dia, gue selalu manggil ‘bang’. Gue nggak pernah manggil dia ‘sayang’. Serius!
Tiba-tiba datang sosok yang membuat gue merinding. Lantas gue hentiin makan gue. Terbengong seketika melihat cowok yang menggandeng tangan cewek itu. Sepertinya mereka anak SMA yang akan berangkat sekolah. Terlihat dari putih abu-abu yang mereka kenakan.
“Sayang, kita sarapan di sini aja, ya?” ujar cowok itu.
Dengan manja nan genit, cewek itu menjawab, “Terserah ayang aja deh, yang penting bisa sama ayang terus.”
Suer, hampir muntah dengar kalimat itu. Kalau dihadapan gue hanya ada mangkuk kosong, mungkin udah gue muntahin di sana. Tapi ini bubur gue. Masa gue mau makan muntahan gue sendiri?!
“Eh, sayang, tapi kita pesannya satu aja ya, nanti kita suapan biar romantis gitu,” sambung cowok itu. Cewek itu mengangguk cepat.
Seketika gue merasa mual banget dengar kalimat itu. Gue percepat makan gue. Lantas meninggalkan abang tukang bubur itu.
Hello, woy bocah, percuma kalian pacaran kalau kalian masih belum bisa bedain mana yang pelit dan mana yang romantis. Beli bubur harga tujuh ribu aja masih semangkuk berdua. Masa kalah sama gue yang anak kosan. Hiks.
Gue prihatin. Seumur-umur, selama pacaran, kayaknya gue nggak pernah gitu.
Rasa mual gue mereda setelah jauh dari pasangan anak alay labil itu. Syukurlah mereka nggak ngikutin atau curigain gue. Sepertinya juga tadi gue nggak dianggep ada.
Perjalanan gue ke kampus ternyata penuh dengan liku-liku perjalanan yang terjal. Kini, disaat gue akan menyeberang, gue melihat sepasang sosok bocah yang lagi-lagi bikin gue mual sekaligus emosi.
“Sayang, ini ‘kan mobilnya dari kanan, bagaimana kalau aku aja yang di kanan?” cowok itu menawarkan cewek disebalahnya bertukar posisi.
“Lho? Kok gitu, sayang?” tanya polos cewek berambut lurus itu.
“Biar kalau ada mobil, aku aja yang ketabrak. Aku nggak mau kamu kenapa-kanapa sayang!”
Woy lap ingus, percuma kalian pacaran kalau nggak tahu rumus fisika dasar. Emang tubuh lu terbuat dari baja tebal semeter apa?! Dimana-mana kalau lu ketabrak, cewek lu juga bakal nyungsep di kap mobil atau nyantol di stang motor.
Gue prihatin. Seumur-umur, selama pacaran, kayaknya gue nggak pernah gitu.
Lagi-lagi gue merasa mual oleh kalimat itu. Ingin gue tonjok muka cowok itu. Untungnya gue masih bisa tahan emosi. Beruntung lu, bocah!
Akhirnya setelah gue lewati halang rintang yang cukup berat hingga membuat gue mual parah, gue sampai di kampus. Untungnya selama di kampus tak ada hal aneh seperti yang gue temuin di jalan tadi. Syukurlah!
Mata kuliah pertama selesai. Sukses terlewati dengan sebungkus kuaci. Maklum sajalah, mahasiswa kayak gue mana tahan sama mata kuliah Kewarganegaraan, apalagi kelas pagi. Bukannya pelajaran itu masuk ke pikiran gue, yang ada malah jadi ngantuk berat.
Untungnya mata kuliah yang kedua dibatalkan karena dosen yang pergi ke antah berantah. Syukurlah gue bisa pulang lebih awal. Namun, gue tak lekas pulang. Gue sempatin ke sebuah resto deket kampus gue untuk makan siang. Gue harap nggak ada lagi sosok yang menyebut pelit dengan romantis.
Benar memang tak ada pelanggan yang memesan satu mangkuk untuk berdua. Sayangnya, kemuakan gue semakin menjadi di sini. Setelah gue memesan satu mangkuk soto, gue milih tempat duduk yang kosong di kantin nomor lima itu. Masalahnya hanya tersisa satu meja kosong.
Gue mulai melahap habis soto yang masih setengah panas itu. Ditemani es jeruk dengan warna kuning menantang di hadapan gue. Gue nggak sadar jika di meja sebelah gue ada sosok pasangan yang menurut gue aneh. Dan gue prediksi lagi-lagi ini bocah SMA. Mereka nggak sekolah?!
“Mah, mau nambah? Kalau mau aku pesanin lagi ya?!” cowok berkaca-mata itu berdiri dari bangkunya, menunjuk tempat Bu Mira, penjual makanan di kantin ini.
“Nggak, pah! Mamah udah kenyang kok,” ujar cewek itu sembari memegang perutnya.
Gila! Belum habis isi mangkuk gue, tiba-tiba gue merasa mual. Dan parahnya rasa mual ini lebih dari dua rasa mual yang sebelumnya gue rasain. Parah!
Lekas gue berdiri dan lari, meninggalkan mangkuk soto gue yang masih tersisa seperempat dan es jeruk gue yang tinggal seperlima gelas. Lantas membayar kepada Bu Mira.
“Mas, itu kok nggak dihabisin sekalian? Buru-buru ya?” tanya Bu Mira sambil memberikan kembalianku.
Eee…, iya, Bu!” jawab gue singkat. Lekas gue berlari keluar kantin.
Woy kulit kuaci, sejak kapan kalian sudah nikah? Sudah punya anak berapa? Kalian pikir ‘mamah-papah’an kayak begitu enak didengar? Terus kalau kalian putus, kalian harus ngurus surat ke pengadilan dulu gitu? Terus anaknya ikut siapa? Harta gono-gininya gimana? Terus kalau masih pacaran manggilnya ‘mamah-papah’an, kalau udah putus manggil ‘duda-janda’an? Janda, mau nambah nggak? Nggak duda, aku masih kenyang.
Gue prihatin. Seumur-umur, selama pacaran, kayaknya gue nggak pernah gitu.
Gue pun menjauh dari tempat menyeramkan itu, bergegegas pulang menuju kosan. Berhubung gue trauma lewat jalan ketika gue berangkat tadi, gue memutar ke jalan yang lain. Lebih panjang memang. Waktu termpuh hingga tiba di kosan gue pun lebih lama. Tak apa untuk menghindari rasa mual gue seperti pagi tadi.
Karena cuaca sang mentari kian terik, gue berhenti di salah satu taman pinggir jalan. Kebetulan di sana teduh. Apalagi ada pedagang es degan. Aduh, segar menggelegar di tenggorokan yang tengah gemetar kekeringan.
Lekas gue pesen satu gelas dan duduk di bangku taman.
“Sayang lihat deh bunga itu! Indah ya?!” Gue terdiam, menengok sebelah gue yang lagi-lagi muncul sosok ABG labil berseragam sekolah menengah atas sedang bermesraan. Cewek itu malah menyandarkan kepalanya di pundah cowoknya. Ini kenapa anak sekolah pada kelayapan?!
“Iya, sayang, indah benget!” jawab cewek itu. “Kalau aku jadi bunga itu, kamu jadi apa, say?”
“Aku jadi kumbangnya.”
Setelah dengar kalimat itu, reflek gue terbatuk-batuk.
“Kenapa, mas?” tanya cowok di sebelah gue. Tak khayal, kini semua mata tertuju pada gue seorang.
“Nggak apa-apa mas. Cuma tersedak kelapanya,” jawab gue malu. Padahal gue tersedak karena dengar kalimat itu.
“Maaf, mas, kelapanya kegedean ya?” sambung pedagang itu.
“Nggak, Bu. Cuma saya yang terburu-buru.” Gue pun senyum garing dihadapan sepasang sosok ABG yang duduk di samping gue dan ibu penjual degan.
Akhirnya gue putusin untuk cepat menghabiskan es degan di tangan gue, membayar, dan cepat-cepat pulang ke kosan.
Woy pipisnya kumbang, percuma kalian pacaran kalau nggak tahu hukum biologi dasar. Dimana-mana kumbang yang kawin sama kumbang, bunga sama bunga. Nggak ada kumbang sama bunga. Gue nggak pernah kebayang anaknya apa antara perkawinan bunga dan kumbang. Apa tubuhnya kumbang tapi kepalanya bunga gitu?
Gue prihatin. Seumur-umur, selama pacaran, kayaknya gue nggak pernah gitu.
Untunglah saat perjalanan dari taman menuju kosan. Lekas gue masuk kamar dan berbaring di tempat tidur gue.
Mengapa ABG zaman sekarang aneh ya? Ada yang sok romantis pakai satu mangkuk berdua. Padahal dia pelit. Ada yang gagap fisika dasar. Ada yang ‘duda-janda’an. Ada yang lagi bereksperimen kawinin kumbang sama bunga. Ah, gue bingung.
Emang bener kata Bang Gombloh. “Dikala cinta, tahi kucing rasa coklat.” Juga mbak Agnez, “Cinta tak ada logika.”
Akhirnya gue mutusin untuk bersikap tak acuh dengan peristiwa itu. Gue lupain semua tentang hari ini –termasuk tentang mata kuliah kuaci gue. Semua gue lupain. Gue nggak mau gila gara-gara mikir benda nggak jelas yang disebut cinta itu.
Sore hari, gue coba buka akun media sosial gue. Bosen dengan instagram, gue coba buka facebook yang sebenernya udah lama gue tinggalin. Siapa tahu gue bisa lupa total dengan hal yang memuakan sekaligus buat gue mual dan mulas. Akan tetapi bukannya lupa malah semakin menjadi.
Ketika gue buka facebook, yang pertama muncul adalah status dari ‘Chietrha chii Chwekx Chiimoetsz’. Anj…, apaan tuh bacanya?! Gue nggak inget sejak kapan gue berteman sama makhluk astral kayak gitu.
Lihat juga statusnya (yang ini gue masih bisa baca); “ghue cuayank elhoe, Kebooo”.
Lihat juga di kolom komentarnya. Sepertinya si Kebo komen tuh. “Akuu jg Keliiinciii”.
Itu maksudnya apa coba? Sayang sama kebo? Terus ada kelinci juga. Maksudnya apa coba?!
Terus komentar selanjutnya; si kelinci komen lagi, “Akoe cuayank kamoo, akoe gak bissaa hiduupp tanpha moeeuu”.
Woy eek kebo, kalian mau melihara hewan?! Manggil aja kebo-kelinci. Lu pikir ini kebun binatang?! Terus si kebo mau lu suruh bajak sawah? Si kelinci jadi bahan tukang sulap? Jangan salahin gue ya, kalau si kebo gue jadiin hewan kurban! Terus yang kedua apa? Nggak bisa hidup tanpa dia? Sejak kapan hidup kelinci bergantung pada kebo? Terus kalau kisah percintaan yang alay ini berakhir? Kalian bakal mati? Mati aja sana!
Gue prihatin. Seumur-umur, selama pacaran, kayaknya gue nggak pernah gitu.
Malam hari, di kosan. Saatnya gue ngerjain tugas mata kuliah gue. Walau gue sering ngantuk di kampus, tapi gue masih ingat tugas dan kewajiban gue. Meski ngantuk juga ngerjain tugas kayak gini.
“Val, mantan lu tuh!” Raka memecahkan keheningan dan keseriusan gue dalam mengerjakan tugas ini –padahal gue ngerjain tugas sambil dengerin lagu The Chainsmokers kesukaan gue.
“Hah?!” Gue terkejut, setengah tidak dengar. Gue lepas earphone gue.
“Gue ketemu sama mantan lu tadi. Dia nungguin lu di depan gang. Katanya dia udah beberapa kali chat WA lu tapi nggak lu bales. Dia takut kemari. Katanya nggak enak sama kita-kita.”
Gue segera cek delapan WA di handphone yang gue silent dari tadi. Lekas gue keluar kosan, menuju depan gang.
Benar saja, ternyata Ve sudah menunggu di atas motor matic-nya.
“Ngapain?” tanya gue dingin padanya. Gue pasang muka keren. Asli, kalau masang muka kayak gini kegantengan gue nambah 0,021%.
Seketika dia turun dari motornya dan meluk gue. Sambil nangis dia berkata, “Valdy, maafin gue. Gue selama ini salah nilai lu, Val! Ternyata lu adalah cowok yang gue sayangi. Ternyata gue nggak bisa hidup tanpa lu, Val! Maafin gue, Val!”
Gue masih pasang muka keren.
“Val!” lanjutnya, “Lu mau kan nerima gue lagi? Lu mau kan maafin gue? Gue pengin kayak dulu lagi, Val! Gue pengin manggil lu dengan ‘papah’ lagi, Val! Gue kangen dipanggil ‘mamah’. Gue juga pengin makan romantis semangkuk berdua. Gue kangen gombalan lu lagi, Val. Gue rindu gombalan bunga-kumbang lu, Val!
“Gue kangen perlindungan lu setiap kita menyebrang jalan bareng. Lu selalu pindah ke sisi dekat mobil, biar gue nggak kenapa-kenapa. Apa kamu nggak ingat, Val, saat kita asyik balas komentar di facebook dengan panggilan sayang kebo dan kelinci? Gue rindu itu semua, Val. Rindu dengan apa yang kita lakuin dulu.”
Hah?!
***

Jadi ... Menyenangkan, Tapi Susah Dijalani (Ver. Mahasiswa dan Siswa SMA)

Think again

Apa kabar semuanya? Arfo harap anda, pembaca setia, selalu sehat wal afiat, tetap menjalankan puasa secara penuh (bagi yang muslim) dan tetap  bersemangat menjalani kehidupan. Untuk itu, marilah kita isi dengan keceriaan.

Masih ingat dengan iklan salah sati layanan komunikasi di Indonesia? Arfo yakin pasti anda tahu. Ya, iklan yang berawalan Kalau Aku Udah Gede ... itu. Kini kami sajikan beberapa versi diantaranya versi mahasiswa dan pelajar SMA. Lhoh? Ya, kali aja sama, tapi ingat ya, tolong digaris bawahi (pencet ctrl+U) Anda boleh setuju boleh tidak, Boleh percaya boleh tidak, boleh sependapat boleh tidak, asal jangan berdebat apalagi hingga terjadi pertumpahan darah. Ini hanya gurauan semata, tak bermaksud menyinggung siapa pun.

Versi iklan asli
Kalau aku udah gede, aku mau jadi eksmud. Mau jadi boss. Hari-hari ngomong campur Bahasa Inggris. Tiap Jumat pulang kantor, nongkrong bareng sesama eksmud ngomongin proyek besar, biar kelihatan sukses. Suara digedein biar kedengeran cewe meja sebelah. Kalau weekend sarapan di cafe sambil sibuk laptop-an. Pesen kopi secangkir harga 40.000. Minumnya pelan-pelan biar tahan sampe siang demi wifi gratis. Kalau tanggal tua, pagi siang malam makannya mie instan. Kalau mau nelpon, bisanya cuma misscall. Jadi orang gede menyenangkan, tapi susah dijalani.

* * *
Kalau aku udah gede, aku ingin kerja di multinasional company. Aku mau kerja di gedung tinggi. Ngomong english setiap hari. Rambut kelimis, sepatu mengkilat, kayak orang penting. Tapi kerjain kerjaan yang kurang penting. Jadi tukang fotocopy, bawain laptop, beres-beres kertas. Nggak masalah kerja 15 jam sehari. Tidur cuma 5 jam sehari. Masalahnya gaji cuma tahan sampai tanggal 15. Untung di warteg bisa makan dulu, bayar belakangan. Tapi sayang nggak berlaku untuk beli pulsa. Jadi orang gede menyenangkan, tapi susah dijalani.
Versi Mahasiswa
Aku mau kuliah IP-nya tinggi. Ngomongin kuis setiap hari. Rambut belum keramas, sepatu diinjek kayak orang telat. Tapi nongkrong nggak penting. Fotocopy catetan, bawa laptop, minta kertas blinder. Nggak masalah di kampus 15 jam sehari. Tidur cuma 5 jam sehari. Masalahnyakiriman cuma tahan sampai tanggal 15. Untung di warteg bisa makan dulu bayar belakangan. Tapi sayang, nggak berlaku untuk bayar kosan. Jadi mahasiswa emang menyenangkan, tapi susah dijalani.

Versi Siswa SMA
Kalau aku udah SMA, aku mau jadi siswa teladan. Mau jadi paling pinter. Hari-hari ngomong campur Bahasa Inggris. Tiap pulang sekolah, nongkrong bareng sesama temen ngomongin tugas sekolah, tapi malah main PES. Suara digedein waktu jawab soal biar keliatan habis belajar. Kalau istirahat nongkrong di koperasi sambil sibuk laptop-an. Pesen air mineral segelas harga 500an. Minumnya pelan-pelan biar tahan sampai bel masuk demi wifi gratis. Kalau tanggal tua, jajannya cuma permen. Kalau mau nyontek, bisanya cuma dicuekin. Jadi siswa SMA menyenangkan, tapi susah dijalani.
* * *

Kalau aku udah SMA, aku ingin UN nilainya tinggi. Aku mau masuk di kelas favorit. Ngomong english setiap hari. Rambut klimis, sepatu mengkilat, kayak orang penting. Tapi temen nganggepnya culun. Fotocopy catetan, pinjem tugas sekolah, nyontek saat tes. Nggak masalah ngerjain tugas 15 jam sehari. Tidur cuma 5 jam sehari. Masalahnya uang saku cuma tahan sampai tanggal 15. Untung di kantin bisa makan dulu, bayar belakangan. Tapi sayang nggak berlaku untuk bayar SPP. Jadi siswa SMA menyenangkan, tapi susah dijalani.

 Jadi apa aja menyenangkan, tapi susah dijalani.
Sleep again