Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Cinta dalam Diam 3: Ajari Aku

Bagian 3: Sebuah cerita dalam diam lanjutan Bagian 1: Perpisahan dan Bagian 2: Masih Sama

Ca, sebenarnya aku suka sama kamu. Aku udah lama memendam perasaan ini. Aku memang nggak mudah buat suka dan menyampaikan perasaan suka itu ke orang lain. Tapi, tidak untuk sekarang. Ya, karena kamu beda. Perbedaannya terletak pada caramu; caramu yang membuatku tersenyum dengan kecerianmu, caramu berbincang denganku, dan caramu mengisi hariku.

"Ah kenapa jadi terlalu melankolis gini ya?!" Aku membaca teks yang kubuat di depan cermin. Mencoret kalimat-kalimat yang sepetinya tak perlu. "Nggak, nggak, nggak enak! Pasti freak kalau gini."

Minggu lalu, Dika sekali lagi bilang, "Kalau lu terus nyimpen perasaan itu sendiri, bakal banyak yang terlewat lagi gitu aja. Udahlah lu ungkapin dulu aja. Entah apa respon dia, setidaknya lu udah ngungkapin semua."

Aku selalu terpikir kalimat Dika itu. Apa benar yang Dika ucapkan? Terlewat untuk kedua kalinya? Mau sampai kapan? Dan sejak tiga hari yang lalu, aku mencoba memikirkan cara untuk menyampaikan hal itu.

Aku tahu ini hal yang tak mudah. Aku juga tahu, nanti akan hanya ada dua kemungkinan. Pertama, semua bakal berjalan lebih indah, dia merespon dengan hal yang sama, dan semua akan baik-baik saja. Kedua, semua akan menjadi canggung, semua bakal awkward, dan mungkin kami nggak akan bisa dekat lagi. Entahlah apa yang terjadi selanjutnya. Bukankah lebih baik menikmati jalan ceritanya saja daripada terus-terusan menerka akhir ceritanya?

Mungkin saat ini adalah saat yang tepat untuk sekadar mengungkapkan apa yang sudah sejak lama terpendam itu. Entah kemungkinan apa yang akan terjadi, life must go on  'kan?

Aku melihat ke arah jam dinding kantor sore itu, pukul 17.25.

"Ca, kamu nggak pulang?" Aku membuka obrolan, mendekat ke meja Chaca. Suasana kantor sudah terbilang sepi sejak 30 menit yang lalu.

"Kayaknya nanti dulu deh, Za. Aku masih harus nge-review satu company lagi nih. Nanggung soalnya," jawabnya masih sambil memandang layar komputer dan coret-coret di kertas, lantas sedikit melirik ke arahku. "Kamu?"

Sebenarnya ini pertanyaan retoris buatku. Ya sejak kami dipertemukan lagi beberapa bulan lalu, mungkin hampir 11 bulan, setelah perpisahan itu, aku hampir tak pernah meninggalkannya, walau hanya sekadar jam pulang. Kami memang sudah dekat sejak saat itu. Tentunya hanya sebatas partner kerja saja. Walaupun sebenarnya ada yang lain.

"Aku? Aku nungguin kamu aja sih."

"Kalau mau balik duluan, balik duluan aja kali!"

Aku lantas mencari alasan, "Sekalian mau ngerapiin file-file aja sih. Emm.... atau ada yang mau ak bantu nggak?"

"Kayaknya nggak ada. Ini juga tinggal satu bagian doang kok."

"Ohh, oke." Aku pura-pura merapikan file-file di meja yang sebenarnya nggak perlu-perlu amat. Selebihnya aku hanya bermain game sambil sesekali melihat wajahnya yang sedang serius.

Jam dinding menunjukkan pukul 18.07. Dia bilang kalau dia sudah selesai dan beberapa review akan dilanjut esok hari saja. Kami pun berkemas. Sambil berkemas, mungkin ini saatnya yang tepat untuk sekadar mengatakan yang sebenarnya.

"Ca, ada yang ingin aku omongin sama kamu."

Seketika dia mematung sepersekian detik, terkejut. "Apaan, Za?"

Ruangan kosong saat itu, menyisakan kami berdua. Pendingin ruangan terasa lebih dingin dari biasanya. Ayolah Za, sekarang saatnya! Ayolah!

Aku menarik nafas panjang, "Kamu mau langsung pulang kah?"

Ah kenapa yang muncul pertanyaan itu? Kenapa nggak langsung aja diungkapin, hah? Aku benar-benar ingin memaki diriku sendiri saat itu.

"Iya, udah lumayan malem juga sih," jawab Chaca.

Kami pun berjalan beriringan menuju keluar kantor. Pikiranku berkemelut. Apa sekarang saja? Oke ini saat terakhir, nggak boleh gagal.

"Za, sorry ya bikin kamu nunggu lama tadi." Chaca membuka obrolan lebih dulu sebelum aku mampu mengungkapkan hal itu.

"Eh, santai aja kali." Aku mencoba untuk tetap tenang.

"Tapi aku nggak enak sama kamu, Za!"

Aku tartawa kecil, "Nggak enak? Kayak sama siapa aja sih kamu pakai nggak enak."

Seketika dia menoleh sebentar, mengulangi pelan sebagian kalimat yang kuucapkan, "Kayak sama siapa aja?"

Aku diam, hanya tersenyum.

"Tapi kenapa kamu mau nungguin aku?" Dia bertanya lagi.

"Ya, karena aku suka ka....." Aku sempat berhenti sejenak, dia menoleh cepat. "Eh, maksudnya suka aja, kan WiFi-nya juga lumayan kenceng."

Kenapa aku harus berbohong lagi??!! Kenapa nggak langsung bilang yang sejujurnya saja??!!

Dan malam itu, aku hanya bisa meratapi sesal sambil melihatnya berjalan menjauhiku, melambaikan tangan, dan tersenyum, sambil bilang, "Hati-hati di jalan, ya," Malam ini, tak ada kalimat lain yang terucap, tak ada isi hati yang tercurah, dan tak ada perasaan yang terungkap. Meskipun pada akhirnya tak bisa terungkap, tapi dalam doa ada namamu yang selalu kuucap. Dan Sepertinya memang perasaan ini masih setia untuk bersemi dalam diam. Entahlah.

Hujan Sore Itu

 Aku kira pelangi selalu hadir setelah hujan lebat, tapi nyatanya tidak. Seperti sore ini, ia tidak datang walau hanya sekejap, bahkan ketika aku menunggunya hingga fajar menyingsing.

 "Fan, lu udah mau balik belom? Kantor udah sepi nih," ujar seorang wanita di ujung telepon sana. Sore itu gue janji buat jemput dia.

"Iya Sis, sebenernya sih masih ada yang perlu gue kerjain sih," jawab gue sambil melihat layar laptop di meja kerja.

"Kalau gitu, gue nge-ojol aja deh. Takut gue sendirian di kantor."

"Jangan-jangan! Oke gue jemput aja ya? Kan gue udah janji sama lu," potong gue. "Tapi temenin gue ngerjain bentar di kafe biasa ya?"

"Boleh, gue juga lagi kosong habis ini. Oke, gue temenin deh!"

"Kalau lebih dari temen boleh nggak?"

"Eh apaan sih lu! Udah buru jemput gue!"

"Siap!" Dan saat itu juga gue langsung nutup laptop, masukin barang ke tas, dan bersiap jemput Siska.

Namanya Siska. Dia temen deket gue. Ya, teman dekat, atau mungkin 'masih' teman. Kami emang udah deket lama. Udah nggak ada kata nggak enak lagi diantara kami. Kami juga udah saling tahu satu sama lain. Cuma satu hal yang dia nggak tahu dari gue.

"Woyy Sis, dimana lu?" Gue langsung nyolot di telpon tanpa salam.

"Bentar, ini jalan keluar." Dari kejauhan wajah cantiknya sudah terlihat jelas, seolah auranya langsung terpancar. Ya, cewek berkacamata dengan rambut diikat itu berjalan cepat, setengah lari.

"Lama amat!" omelnya ke gue.

"Ah ngomel mulu. Ya lu ngapain nunggu di dalem," balas gue. "Nih pake aja helmnya!"

Kami pun meluncur ke kafe tempat biasa kami nongkrong kalau lagi bosen. Hampir tiap weekend kami selalu datang kesini, cuma buat melepas sepi aja. Karena besok hari libur, bisalah ya malam ini gue berlama-lama sama dia. Dan saking seringnya kami kesini, barista sampai hafal pesanan kami, Chocolate caramel dan Espresso Machiato, dan beberapa cemilan.

"Lu mau nggak?" gue menawarkan kentang goreng ke Siska.

"Nggak, lagi diet," jawabnya sambil scroll timeline media sosial.

"Lagi diet tapi pesennya chocolate caramel. Ya manis-manis juga buuuu!!" Gue mengambil sepotong kentang goreng itu. "Eh tapi nggak apa-apa, gue suka kok kalau lu tambah manis. Bahkan lu mau gendut atau kurus, lu masih cantik. Gue juga tetep suka."

"Nah kan mulai... mulai!! Udah deh lu kerjain aja kerjaan lu!" Seperti biasa, Siska pasti selalu ngomel kalau gue gituin. Tapi entah kenapa gue suka godain dia kayak gitu. Alias, ya emang gue suka. Soal kerjaan, sebenernya kerjaan ini nggak urgent, ya gue cuma ngajak dia kesini aja.

Untungnya setiap dia ngomel kayak gitu, nggak lama balik lagi seperti semula. Kami pun ngobrol lagi, mulai dari kerjaan, cerita di kantornya yang katanya mulai banyak drama, julid masalah instastory temen yang suka pamer, sampai ngomongin pengunjung kafe yang nggak kami kenal. Sesekali kami saling melempar guyonan yang sejujurnya terdengar garing, tapi tetap saja kami bisa tertawa. Mungkin selera humor kami sama-sama rendah.

"Eh besok lu ada acara nggak? Nonton yuk!" tanya gue memotong tertawanya.

"Emm, besok gue ada janji mau ketemuan sama Alvin. Lain kali aja deh, Fan."

"Alvin temen kantor lu itu?" Dia pernah cerita soal si Alvin ini. Dan seketika gue malas buat ketawa lagi.

"Iya. Sorry ya, Fan!"

"Jam berapa emang? Mau gue anter nggak?"

"Jam 3 sih, tapi nggak usah deh!"

"Udah nggak apa-apa. Gue jemput ya besok jam 3?"

"Okedeh kalau lu maksa. Lumayan ngehemat bayar ojol." Siska tertawa lagi. Tapi kali ini gue cuma tersenyum tipis. Gue penasaran mereka mau ngapain nantinya. Iya gue tahu kalau Alvin suka sama Siska. Dan gue juga tahu kalau Siska juga ada perasaan sama ke Alvin. Hah! Kenapa urusan hati ini selalu menjadi pelik?!

Sore itu.

Gue udah siap dengan semua kemungkinan yang terjadi. Haha... bukan apa sih, cuma terkadang soal hati butuh kesiapan yang mumpuni.

Tepat pukul 3 sore, gue dan Siska sudah tiba di Mall tempat janjian.

"Lantai berapa sih?" tanya gue, berusaha buat baik-baik saja walaupun sebenernya ada yang mengganjal.

"Katanya sih lantai 3, disini." Siska melihat sekeliling sambil menekan smartphone-nya. "Itu kayaknya dia deh! Alvin!"

"Eh nggak teriak-teriak juga kali." Gue menyusul langkah dia yang mulai mendekat ke orang yang dimaksud.

Siska nggak peduli, dia tetap berteriak Alvin sambil mendekati orang itu. Orang itu menoleh cepat. Benar, dia orangnya.

"Eh sorry ya, Sis, udah lama ya nunggunya?" Basa-basi Alvin sesaat setelah tahu Siska ternyata yang memanggilnya. Mereka kemudian tos, tapi kenapa itu pegangan nggak lepas-lepas, ya?!

"Enggak, gue juga baru dateng kok," jawab Siska, "Eh iya, kenalin Alvin ini Irfan. Irfan ini Alvin."

Gue dan Alvin saling bersalaman. Gue tersenyum tipis, mencoba untuk tetap biasa saja. Ya bukannya emang biasa aja, harusnya. Tapi entah kenapa gue merasa ada sesuatu yang mengganjal dan berkecamuk di dada. Entahlah.

Ternyata gue nggak siap.
Mereka terlihat benar-benar cocok. Saling bercanda, tertawa, bahkan sesekali mereka saling menggenggam tangan satu sama lain. Gue cuma bisa berjalan gontai dibelakang sambil berkali-kali menarik dan menghembuskan nafas panjang.

"Eh Fan, lu mau makan nggak? Kita mau makan nih," tanya Siska mengaburkan lamunan gue.

"Emm..., kayaknya gue harus cabut dulu deh. Ada urusan mendadak nih. Sorry ya Sis, Vin!"

"Eh kok lu gitu sih?!" Siska berusaha menahan gue.

Sorry Sis, gue cuma nggak kuat sama keadaan ini.

"Sorry banget ya. Gue harus cabut sekarang."

Kini gue udah nyampai di parkiran. Terlihat langit agak mendung, persis seperti apa yang gue rasain. Mungkin semesta menyadarinya.

Gerimis mulai datang. Gue memutuskan untuk singgah terlebih dahulu ke kafe. Ya, mungkin hanya berteduh, atau sekadar menenangkan diri. Huh, kenapa gue bisa ngerasa kayak gini ya?

Gue sadar, gue bukan siapa-siapanya. gue bahkan nggak berhak melarang dia buat jalan dan ketemu siapapun. Gue juga tak berhak buat ngatur dia ingin menaruh perasaan itu ke siapa. Gue hanya teman dekat, yang sepertinya tugas gue hanya untuk menghiburnya saja kala dia sedih, sampai dia temukan orang yang jauh lebih bisa menghibur dan menemaninya. Nggak lebih.

Urusan perasaan itu? Sepertinya gue nggak perlu lagi mempedulikannya. Jika dia memang buat gue, gue yakin, kita akan bertemu pada satu tuju. Biarlah semua berjalan sebagaimana mestinya saja 'kan?

Gue menatap tetesan air di balik jendela kafe. Hujan sore ini, gue harap akan ada pelangi yang datang.


Cinta dalam Diam 2: Masih Sama

Bagian 2: sebuah kisah dalam diam lanjutan Bagian 1

"Tumben baru datang, Ca?" Aku mempercepat langkahku saat tahu dia berada di depan, berjalan sejajar dengannya, hendak memasuki gedung perkantoran ini. Basa-basi. 

"Eh?" Wanita yang tepat disampingku menoleh cepat, sepertinya aku sukses membuat dia terkejut. "Iya nih, Za, jalanan rame banget tadi. Mana sempet salah belok driver onlinenya." 

 Ya, dia adalah wanita yang sama, yang pernah aku jumpai di bangku SMA dulu. Wanita yang pernah aku idamkan. Pertemuan singkat dulu ternyata terbayar lunas dengan pertemuan kini. Setelah sekian purnama tak berjumpa, tepat 3 bulan lalu, dia kembali.

 Aku mengusap mata pagi itu saat dia menghampiri dan menugurku. Setengah mengantuk.

"Hai, kamu Reza 'kan?" Suara itu terdengar dari sisi kananku. Aku yang setengah kaget segera membenahi kacatama yang terpasang di dahi. Menoleh.

"Reza 'kan?" Dia mengulang kembali pertanyaan itu. Hei, siapa wanita yang berpakaian formal ini? Bagaimana dia bisa tahu namaku? Dahiku mulai mengerut. Aku hanya tersenyum tipis dan mengangguk perlahan. Dia menarik kursi sebelah yang masih kosong, lantas duduk. Aku yang masih bingung siapa dia, mencoba mengingat-ingat. Tapi sepertinya tak ada bayangan sama sekali.

Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Kamu pasti masih ingat ini kan?"

Boneka penyu? Ingatanku seolah menarik mundur waktu ke masa itu. Masa putih abu-abu. Tepat saat aku mendatangi rumahnya untuk pertemuan yang terakhir kali. Cinta masa SMA yang dulu pernah ada.

"Chaca?" Aku berusaha menebak, dan pasti tebakanku benar.

"Akhirnya kamu ingat juga." Dia tersenyum kecil.

"Sorry, soalnya... agak... beda." Aku memutar-mutarkan jariku di dekat dahi. Mengisyaratkan disitulah perbedaannya. Sebenarnya dia masih sama seperti dulu, berkacamata, berkulit putih, hanya saja sekarang ditambah dengan hijab yang menambah anggun parasnya. Apalagi saat dia ternyum kecil tadi, adalah kombinasi yang sempurna dari sebuah definisi kata manis. "Kamu masih nyimpen itu?"

"Ya... penyu ini yang sering menemaniku kemana pun. Bukankah penyu adalah sebuah simbol kesetiaan? Sejauh apapun dia pergi, dia akan kembali pulang, 'kan?" Dia menyodorkan tangannya. "Aku anak baru disini. Baru hari ini mulai. Dan sepertinya kita satu tim ya?"

Kami pun larut dalam obrolan mengenang masa lalu. Mulai dari setelah dia pindah, kuliahnya, hingga bagaimana dia bisa diterima di kantor konsultan finance ini. Jika dipikir-pikir lucu juga memang. Sejak Chaca pindah, tak ada komunikasi sama sekali diantara kita. Mungkin aku terlalu penakut untuk menghubunginya lebih dulu, walau hanya bertanya kabar. Aku memang bukan pembuka pembicaraan yang baik. Tapi, walaupun tak ada komunikasi selama bertahun-tahun, mengapa tiba-tiba waktu mempertemukan kami kembali? Sebuah kebetulan kah? Aku tak percaya sebuah kebetulan. Bukankah semua sudah digariskan? Entahlah, lucu, juga membingungkan? Dan aku.... hey kenapa tiba-tiba perasaan itu muncul lagi? Perasaan yang masih sama seperti dulu.

Malam harinya, aku mengabarkan kepada Dika yang kini sedang melanjutkan study-nya di negeri seberang. Dia ambisius sekali mengejar pendidikan masternya di luar negeri. Padahal dia tak pintar-pintar amat.

"Kok bisa?!!" Dika terheran di ujung telepon sana. Aku hanya terkekeh. Ya ini memang sangat mengherankan.

Sejak perkenalan pagi itu, tak sulit bagi kami untuk dekat walau dengan obrolan yang sebenarnya itu-itu saja. Obrolan basa-basi yang sangat tidak penting, masalah kerjaan, hingga membicarakan atasan dan teman kantor. Meskipun aku bukan orang yang baik untuk mengawali pembicaraan, tapi aku selalu berusaha untuk memulai. Aku tak mau saat-saat dulu terulang lagi. Meskipun untuk beberapa topik dia hanya mengiyakan saja. Entahlah mungkin tak nyaman, atau sudah tahu kalau itu hanya sekadar basa-basi saja. Aku juga sering berusaha untuk melakukan sesuatu bersama dia, mulai kunjungan ke client, mengerjakan satu-dua hal, istirahat makan siang, hingga saat pulang kantor. Seolah semua berjalan tanpa disengaja. Entahlah.

"Tapi lu masih nyimpen rasa kan sama dia?" ujar Dika melalui telepon malam itu. Aku hanya terdiam. "Lu ungkapin aja kali. Heran dah, daridulu nggak pernah berubah."

"Tapi, kalau ternyata dia nggak punya perasaan yang sama, semua bakal berubah nggak sih? Semua bakal awkward, canggung, nggak sama lagi. Semua bakal...."

"Tapi kalau dia punya rasa yang sama?" Dika memotong pembicaraanku. "Kenapa nggak lu coba dulu? Mau sampai kapan lu diam-diam terus gini?"

Aku hanya menghela nafas.

Tiga bulan berlalu sejak pertemuan itu. Kami masih sering ngobrol hal-hal yang biasa-biasa saja, ataupun hanya sekadar basa-basi, seperti pagi ini.

"Yang penting kan bisa nyampai tepat waktu juga." Aku melanjutkan basa-basi itu.

"Iya sih," jawabnya singkat.

Ya, Semua seolah berjalan tak ada apa-apa. Tak ada yang perlu di-apa-apa-kan bukan? Aku suka dengan kami yang sekarang. Aku juga bahagia dengan keadaan sekarang. Dia selalu membawa keceriaan dengan cara sederhana. Biarkan semua berjalan sebagaimana mestinya saja, walau aku pun tak tahu bagaimana kelanjutannya. Semesta pasti punya cara dan jalannya sendiri.

Akhirnya, Sandal Jepit Punya Buku Baru --Setelah Hiatus Berwindu-windu

Lagi-lagi gue gagal menuhin target gue buat selalu update blog ini. Nggak terasa, sekitar 3 bulan lebih gue nggak update. Kesibukan di dunia nyata ternyata lebih sibuk dari yang gue bayangin. Jadi, gue mau minta maaf aja nggak ada yang baru di blog ini dan buat kalian nunggu lama (kayak ada yang nungguin aja ya, guenya aja nggak pernah ada yang nungguin. Plak!).

Post kali ini gue cuma mau sharing aja sih, sekalian ngiklan. Jadi, selama hiatus beberapa bulan belakangan ini gue bener-bener berhasil ngelarin project kecil-kecilan gue. Ya, gue berhasil nerbitin buku "Sandal Jepit". Sebenarnya project ini sudah lama sekali dimulai. Kurang lebih lima atau enam tahun yang lalu. Bayangin aja, pemilu aja kalah! Plak!

Project ini dimulai saat gue masih SMA (kalau nggak salah) --yang jelas sebelum blog ini bertransformasi ganti nama jadi "Sandal Jepit", dan buku itu juga yang menginspirasi gue buat ngasih nama blog ini sesuai project itu. Ya, gue iseng nulis buku. Ceritanya, novel gitu. Ceritanya lagi, novel romance-comedy. Buku ini sebenarnya sudah selesai dari beberapa tahun yang lalu, entah karena ada satu dua hal akhirnya terlupakan begitu aja. Sedih juga ya.

Singkat cerita akhirnya, tahun ini --tepatnya bulan lalu (saat post ini ditulis)-- buku ini berhasil terbit juga. Oke langsung aja nih penampakan cover bukunya.

Sandal Jepit
Cover buku Sandal Jepit

Gimana keren nggak covernya? Jelas dong. 'kan bukan gue yang nge-desain. Plak!

Kok covernya warnanya cerah banget?
Kok gambarnya dua cowok? Katanya romance? Hombreng ya, cin?
Kok judulnya "Sandal Jepit"? Kenapa nggak "Sepatu" atau "Pantofel"?
Ceritanya tentang apaan, sih?
Itu kacamatanya minus berapa? 
Itu jenis tanaman apa sih?

Kalau disuruh jawab, gue juga bingung sih. Iya ya, kenapa warnanya cerah ya, kenapa nggak gue kasih judul "Pantofel" yang lebih keren, elegan gitu. Nah itu gue juga bingung. Biar nggak pada bingung berjamaah, nih gue kasih bocoran dikit ya.

Sandal Jepit

Judul Buku : Sandal Jepit: Karena Urusan Pacar Bisa Diatur
Penerbit : Ellunar
Tahun Terbit : November 2018
Jumlah Halaman : 215 Halaman
ISBN : 978-602-5938-51-1

Sinopsis:
Adit. Cowok mirip Suneo yang punya bakat telat masuk sekolah ini galau habis karena nggak pernah punya pacar. Predikat jomblo sudah lama ia sandang. Sedangkan Yoga, sahabat gilanya setidaknya pernah pacaran sekali.
Dengan tekad yang kuat, ditambah bantuan Yoga yang alay berat, Adit memutuskan untuk mencoba segala cara yang diberikan Yoga, sohibnya sejak zaman baheula padanya. Kejadian demi kejadian nggak waras menimpa Adit dan berimbas ke Yoga. Entah trik macam apa lagi agar Adit punya pacar, sayang semuanya nggak pernah berhasil dicoba. Adit udah pasrah. Satu-satunya yang lekat kayak lem cuma persahabatan mereka.
Sampai di suatu ketika, Adit menemukan cewek cantik adik tingkat. Adit yang sudah menetapkan pilihan, memutuskan untuk mendekati dan menjalin hubungan. Tetapi bagi Yoga, ada yang aneh dengan persahabatan mereka. Benarkah Yoga merasa pertemanan mereka baik-baik saja setelah Adit menautkan tambatan hatinya?
* Sandal Jepit *
“Sandal jepit kalau yang satu ilang, yang satu udah nggak ada gunanya. Dan mendingan sandal itu lusuh, daripada ilang sebelah, kan? persahabatan juga kayak gitu. Mending lusuh, sampai aki-aki, daripada yang satu harus pergi.”
-Adit-

Nah gimana? sudah bisa nebak, belom inti ceritanya?
Masih belom? Ya sudah ini gue kasih bocoran satu bab.

Akhirnya...., setelah melewati perjalanan panjang mendaki lembah lewati gunung, setelah bersemedi di goa, buku ini akhirnya terbit. Yay.....
Naskah buku ini sebenarnya udah gue tulis lama, kira-kira lima sampai empat tahun lalu. Kalau diibaratkan naskah buku ini adalah anak. Sekarang dia udah sekolah di Taman Kanak-Kanak. Oke fix, ternyata gue udah menua. Skip.
Buku ini gue kasih nama Sandal Jepit, yang entah gue sendiri juga bingung kenapa gue kasih nama itu. Tapi santai aja, isi buku ini bukan galeri foto-foto sandal jepit di seluruh dunia ataupun tips dan trik merawat sandal jepit yang benar. Bukan. Buku ini berisi tentang sebuah kisah asmara percintaan, ya bisa dibilang romance.
Bagi banyak orang, romance itu pasti kaitannya sama lawan jenis. Buku ini beda, man. Romance bukan hanya soal kisah asmara dua orang sejoli beda jenis kelamin yang lagi alay-alay-nya begitu, tapi juga soal sahabat. Yaps, buku ini berisi kisah romance pertemanan antar anak manusia, yang disertai bumbu-bumbu komedi khas persahabatan.
Karena buku ini udah gue tulis lama, maka setting pelengkap cerita ini juga bakalan ngajak kalian, wahai generasi senior yang matang (read: generasi tua) untuk bernostalgia. Cocok buat kalian yang kangen persahabatan tempo doeloe.
Oke, daripada kepanjangan curhatan gue, terakhir, gue mau ngucapin makasih banget buat semua pihak yang udah terlibat langsung maupun tidak langsung dalam penyelesaian buku ini. Makasih juga buat yang udah mau baca tulisan gue. Gue tunggu review¬-nya ya!
Terakhirnya terakhir, gue juga minta maaf kalau ada kesalahan apapun dalam buku ini. Gue minta maaf kalau ada komedi yang agak jorok, karena sebenarnya itu hanya buat lucu-lucuan.
Yang terakhirnya terakhir banget, setelah baca buku ini, ingat sahabat-sahabat kalian dulu. Inget orang-orang yang pernah ada saat kalian senang maupun susah, dulu. Hubungi dia, sms dia, chat dia, Line dia, WhatsApp dia, dan bilang “WOI, BAYAR UTANG-UTANG LO!”

Selamat Membaca!

Itu bab apaan dah? mana ceritanya?
Iya itu bab curhatan gue, yang biasanya ada di sebelum daftar isi. Haha...

Oke daripada penasaran lebih jauh, biar bisa jawab pertanyaan-pertanyaan calon mertua di atas, bisa langsung order aja di:

LINE : @ellunar
WA : 089685309651

Oh ya, buku ini hanya dijual secara online teman-teman, jadi maaf kalau nyari di toko buku nggak ada. Gue juga pengin dicariin. Jadi pesannya via online di LINE@ atau WhatsApp ya.

Gue berharap banget lho kritik dan sarannya. Gue paling suka sesi ala-ala netizen, jadi gue tunggu, gaes!

Cerpen Humor Cinta: Saat Cinta, Tai Kucing Rasa Coklat

Romance Story and Love
Cinta Memang Tak Ada Logika (sumber: pxhere)
Kata orang cinta itu perasaan yang membuat insan nyaman. Saat cinta itu datang, apapun pasti dilakukan. Ya, seperti itulah. Kalau kata Gombloh, Cinta itu Tai Kucing Rasa Coklat. Kalau Agnez Mo bilang, Cinta itu Tak Ada Logika. Ada juga yang bilang kalau cinta itu buta. Ya, seperti itulah cinta. Membuat segalanya pantas untuk dilakukan, tanpa tahu apa yang sebenarnya dilakukan. Ha ha ha, cinta....
***
“Tapi Ve, gue masih sayang sama lu. Gue cinta sama lu, Ve!” pekik gue, memegangi lengan Vella.
“Sayang?! Lu bilang lu sayang?!” Vella membalikkan badan. “Kalau lu sayang harusnya lu nggak kayak gini! Lepasin tangan gue!”
“Tapi Ve…”
“Lepasin!” Ve pun balik badan, menghempaskan tamparan keras tepat mengenai pipi kiri gue, lekas pergi meninggalkan gue tanpa ucapan selamat tinggal, lambaian tangan apalagi.
Sejak tragedi malam tadi itu gue benci sama yang namanya cinta. Gue benci sama yang namanya sayang. Ah, apaan itu sayang, cinta?! Bullshit. Ve selalu bilang sama gue kalau dia nggak bakal putusin gue karena dia sayang sama gue. Tapi, apa, hah?! Gue nggak salah apa-apa tiba-tiba diputusin. Ah, persetan dengan cinta!!
Hari ini adalah hari pertama gue benci sama yang namanya cinta. Harusnya, hari ini berjalan normal, seperti biasa. Ternyata tidak. Gue hampir saja mukul orang lain karena emosi. Bukan karena Ve. Kalau masalah putus cinta saja gue udah nggak kaget. Tapi gue emosi karena ada sepasang sosok manusia aneh, bilang saling cinta, tapi… ah….
Pagi itu gue bersiap berangkat kuliah seperti biasa. Seperti biasa pula gue cari sarapan di luar kosan. Lagi-lagi seperti biasa pula gue pilih tukang bubur ayam. Hidup gue memang biasa. Monoton.
“Bang, biasa! Kerupuknya tambahin dikit!” pesan gue pada penjual bubur ayam langganan gue. Meski gue sudah langganan sama dia, gue selalu manggil ‘bang’. Gue nggak pernah manggil dia ‘sayang’. Serius!
Tiba-tiba datang sosok yang membuat gue merinding. Lantas gue hentiin makan gue. Terbengong seketika melihat cowok yang menggandeng tangan cewek itu. Sepertinya mereka anak SMA yang akan berangkat sekolah. Terlihat dari putih abu-abu yang mereka kenakan.
“Sayang, kita sarapan di sini aja, ya?” ujar cowok itu.
Dengan manja nan genit, cewek itu menjawab, “Terserah ayang aja deh, yang penting bisa sama ayang terus.”
Suer, hampir muntah dengar kalimat itu. Kalau dihadapan gue hanya ada mangkuk kosong, mungkin udah gue muntahin di sana. Tapi ini bubur gue. Masa gue mau makan muntahan gue sendiri?!
“Eh, sayang, tapi kita pesannya satu aja ya, nanti kita suapan biar romantis gitu,” sambung cowok itu. Cewek itu mengangguk cepat.
Seketika gue merasa mual banget dengar kalimat itu. Gue percepat makan gue. Lantas meninggalkan abang tukang bubur itu.
Hello, woy bocah, percuma kalian pacaran kalau kalian masih belum bisa bedain mana yang pelit dan mana yang romantis. Beli bubur harga tujuh ribu aja masih semangkuk berdua. Masa kalah sama gue yang anak kosan. Hiks.
Gue prihatin. Seumur-umur, selama pacaran, kayaknya gue nggak pernah gitu.
Rasa mual gue mereda setelah jauh dari pasangan anak alay labil itu. Syukurlah mereka nggak ngikutin atau curigain gue. Sepertinya juga tadi gue nggak dianggep ada.
Perjalanan gue ke kampus ternyata penuh dengan liku-liku perjalanan yang terjal. Kini, disaat gue akan menyeberang, gue melihat sepasang sosok bocah yang lagi-lagi bikin gue mual sekaligus emosi.
“Sayang, ini ‘kan mobilnya dari kanan, bagaimana kalau aku aja yang di kanan?” cowok itu menawarkan cewek disebalahnya bertukar posisi.
“Lho? Kok gitu, sayang?” tanya polos cewek berambut lurus itu.
“Biar kalau ada mobil, aku aja yang ketabrak. Aku nggak mau kamu kenapa-kanapa sayang!”
Woy lap ingus, percuma kalian pacaran kalau nggak tahu rumus fisika dasar. Emang tubuh lu terbuat dari baja tebal semeter apa?! Dimana-mana kalau lu ketabrak, cewek lu juga bakal nyungsep di kap mobil atau nyantol di stang motor.
Gue prihatin. Seumur-umur, selama pacaran, kayaknya gue nggak pernah gitu.
Lagi-lagi gue merasa mual oleh kalimat itu. Ingin gue tonjok muka cowok itu. Untungnya gue masih bisa tahan emosi. Beruntung lu, bocah!
Akhirnya setelah gue lewati halang rintang yang cukup berat hingga membuat gue mual parah, gue sampai di kampus. Untungnya selama di kampus tak ada hal aneh seperti yang gue temuin di jalan tadi. Syukurlah!
Mata kuliah pertama selesai. Sukses terlewati dengan sebungkus kuaci. Maklum sajalah, mahasiswa kayak gue mana tahan sama mata kuliah Kewarganegaraan, apalagi kelas pagi. Bukannya pelajaran itu masuk ke pikiran gue, yang ada malah jadi ngantuk berat.
Untungnya mata kuliah yang kedua dibatalkan karena dosen yang pergi ke antah berantah. Syukurlah gue bisa pulang lebih awal. Namun, gue tak lekas pulang. Gue sempatin ke sebuah resto deket kampus gue untuk makan siang. Gue harap nggak ada lagi sosok yang menyebut pelit dengan romantis.
Benar memang tak ada pelanggan yang memesan satu mangkuk untuk berdua. Sayangnya, kemuakan gue semakin menjadi di sini. Setelah gue memesan satu mangkuk soto, gue milih tempat duduk yang kosong di kantin nomor lima itu. Masalahnya hanya tersisa satu meja kosong.
Gue mulai melahap habis soto yang masih setengah panas itu. Ditemani es jeruk dengan warna kuning menantang di hadapan gue. Gue nggak sadar jika di meja sebelah gue ada sosok pasangan yang menurut gue aneh. Dan gue prediksi lagi-lagi ini bocah SMA. Mereka nggak sekolah?!
“Mah, mau nambah? Kalau mau aku pesanin lagi ya?!” cowok berkaca-mata itu berdiri dari bangkunya, menunjuk tempat Bu Mira, penjual makanan di kantin ini.
“Nggak, pah! Mamah udah kenyang kok,” ujar cewek itu sembari memegang perutnya.
Gila! Belum habis isi mangkuk gue, tiba-tiba gue merasa mual. Dan parahnya rasa mual ini lebih dari dua rasa mual yang sebelumnya gue rasain. Parah!
Lekas gue berdiri dan lari, meninggalkan mangkuk soto gue yang masih tersisa seperempat dan es jeruk gue yang tinggal seperlima gelas. Lantas membayar kepada Bu Mira.
“Mas, itu kok nggak dihabisin sekalian? Buru-buru ya?” tanya Bu Mira sambil memberikan kembalianku.
Eee…, iya, Bu!” jawab gue singkat. Lekas gue berlari keluar kantin.
Woy kulit kuaci, sejak kapan kalian sudah nikah? Sudah punya anak berapa? Kalian pikir ‘mamah-papah’an kayak begitu enak didengar? Terus kalau kalian putus, kalian harus ngurus surat ke pengadilan dulu gitu? Terus anaknya ikut siapa? Harta gono-gininya gimana? Terus kalau masih pacaran manggilnya ‘mamah-papah’an, kalau udah putus manggil ‘duda-janda’an? Janda, mau nambah nggak? Nggak duda, aku masih kenyang.
Gue prihatin. Seumur-umur, selama pacaran, kayaknya gue nggak pernah gitu.
Gue pun menjauh dari tempat menyeramkan itu, bergegegas pulang menuju kosan. Berhubung gue trauma lewat jalan ketika gue berangkat tadi, gue memutar ke jalan yang lain. Lebih panjang memang. Waktu termpuh hingga tiba di kosan gue pun lebih lama. Tak apa untuk menghindari rasa mual gue seperti pagi tadi.
Karena cuaca sang mentari kian terik, gue berhenti di salah satu taman pinggir jalan. Kebetulan di sana teduh. Apalagi ada pedagang es degan. Aduh, segar menggelegar di tenggorokan yang tengah gemetar kekeringan.
Lekas gue pesen satu gelas dan duduk di bangku taman.
“Sayang lihat deh bunga itu! Indah ya?!” Gue terdiam, menengok sebelah gue yang lagi-lagi muncul sosok ABG labil berseragam sekolah menengah atas sedang bermesraan. Cewek itu malah menyandarkan kepalanya di pundah cowoknya. Ini kenapa anak sekolah pada kelayapan?!
“Iya, sayang, indah benget!” jawab cewek itu. “Kalau aku jadi bunga itu, kamu jadi apa, say?”
“Aku jadi kumbangnya.”
Setelah dengar kalimat itu, reflek gue terbatuk-batuk.
“Kenapa, mas?” tanya cowok di sebelah gue. Tak khayal, kini semua mata tertuju pada gue seorang.
“Nggak apa-apa mas. Cuma tersedak kelapanya,” jawab gue malu. Padahal gue tersedak karena dengar kalimat itu.
“Maaf, mas, kelapanya kegedean ya?” sambung pedagang itu.
“Nggak, Bu. Cuma saya yang terburu-buru.” Gue pun senyum garing dihadapan sepasang sosok ABG yang duduk di samping gue dan ibu penjual degan.
Akhirnya gue putusin untuk cepat menghabiskan es degan di tangan gue, membayar, dan cepat-cepat pulang ke kosan.
Woy pipisnya kumbang, percuma kalian pacaran kalau nggak tahu hukum biologi dasar. Dimana-mana kumbang yang kawin sama kumbang, bunga sama bunga. Nggak ada kumbang sama bunga. Gue nggak pernah kebayang anaknya apa antara perkawinan bunga dan kumbang. Apa tubuhnya kumbang tapi kepalanya bunga gitu?
Gue prihatin. Seumur-umur, selama pacaran, kayaknya gue nggak pernah gitu.
Untunglah saat perjalanan dari taman menuju kosan. Lekas gue masuk kamar dan berbaring di tempat tidur gue.
Mengapa ABG zaman sekarang aneh ya? Ada yang sok romantis pakai satu mangkuk berdua. Padahal dia pelit. Ada yang gagap fisika dasar. Ada yang ‘duda-janda’an. Ada yang lagi bereksperimen kawinin kumbang sama bunga. Ah, gue bingung.
Emang bener kata Bang Gombloh. “Dikala cinta, tahi kucing rasa coklat.” Juga mbak Agnez, “Cinta tak ada logika.”
Akhirnya gue mutusin untuk bersikap tak acuh dengan peristiwa itu. Gue lupain semua tentang hari ini –termasuk tentang mata kuliah kuaci gue. Semua gue lupain. Gue nggak mau gila gara-gara mikir benda nggak jelas yang disebut cinta itu.
Sore hari, gue coba buka akun media sosial gue. Bosen dengan instagram, gue coba buka facebook yang sebenernya udah lama gue tinggalin. Siapa tahu gue bisa lupa total dengan hal yang memuakan sekaligus buat gue mual dan mulas. Akan tetapi bukannya lupa malah semakin menjadi.
Ketika gue buka facebook, yang pertama muncul adalah status dari ‘Chietrha chii Chwekx Chiimoetsz’. Anj…, apaan tuh bacanya?! Gue nggak inget sejak kapan gue berteman sama makhluk astral kayak gitu.
Lihat juga statusnya (yang ini gue masih bisa baca); “ghue cuayank elhoe, Kebooo”.
Lihat juga di kolom komentarnya. Sepertinya si Kebo komen tuh. “Akuu jg Keliiinciii”.
Itu maksudnya apa coba? Sayang sama kebo? Terus ada kelinci juga. Maksudnya apa coba?!
Terus komentar selanjutnya; si kelinci komen lagi, “Akoe cuayank kamoo, akoe gak bissaa hiduupp tanpha moeeuu”.
Woy eek kebo, kalian mau melihara hewan?! Manggil aja kebo-kelinci. Lu pikir ini kebun binatang?! Terus si kebo mau lu suruh bajak sawah? Si kelinci jadi bahan tukang sulap? Jangan salahin gue ya, kalau si kebo gue jadiin hewan kurban! Terus yang kedua apa? Nggak bisa hidup tanpa dia? Sejak kapan hidup kelinci bergantung pada kebo? Terus kalau kisah percintaan yang alay ini berakhir? Kalian bakal mati? Mati aja sana!
Gue prihatin. Seumur-umur, selama pacaran, kayaknya gue nggak pernah gitu.
Malam hari, di kosan. Saatnya gue ngerjain tugas mata kuliah gue. Walau gue sering ngantuk di kampus, tapi gue masih ingat tugas dan kewajiban gue. Meski ngantuk juga ngerjain tugas kayak gini.
“Val, mantan lu tuh!” Raka memecahkan keheningan dan keseriusan gue dalam mengerjakan tugas ini –padahal gue ngerjain tugas sambil dengerin lagu The Chainsmokers kesukaan gue.
“Hah?!” Gue terkejut, setengah tidak dengar. Gue lepas earphone gue.
“Gue ketemu sama mantan lu tadi. Dia nungguin lu di depan gang. Katanya dia udah beberapa kali chat WA lu tapi nggak lu bales. Dia takut kemari. Katanya nggak enak sama kita-kita.”
Gue segera cek delapan WA di handphone yang gue silent dari tadi. Lekas gue keluar kosan, menuju depan gang.
Benar saja, ternyata Ve sudah menunggu di atas motor matic-nya.
“Ngapain?” tanya gue dingin padanya. Gue pasang muka keren. Asli, kalau masang muka kayak gini kegantengan gue nambah 0,021%.
Seketika dia turun dari motornya dan meluk gue. Sambil nangis dia berkata, “Valdy, maafin gue. Gue selama ini salah nilai lu, Val! Ternyata lu adalah cowok yang gue sayangi. Ternyata gue nggak bisa hidup tanpa lu, Val! Maafin gue, Val!”
Gue masih pasang muka keren.
“Val!” lanjutnya, “Lu mau kan nerima gue lagi? Lu mau kan maafin gue? Gue pengin kayak dulu lagi, Val! Gue pengin manggil lu dengan ‘papah’ lagi, Val! Gue kangen dipanggil ‘mamah’. Gue juga pengin makan romantis semangkuk berdua. Gue kangen gombalan lu lagi, Val. Gue rindu gombalan bunga-kumbang lu, Val!
“Gue kangen perlindungan lu setiap kita menyebrang jalan bareng. Lu selalu pindah ke sisi dekat mobil, biar gue nggak kenapa-kenapa. Apa kamu nggak ingat, Val, saat kita asyik balas komentar di facebook dengan panggilan sayang kebo dan kelinci? Gue rindu itu semua, Val. Rindu dengan apa yang kita lakuin dulu.”
Hah?!
***

Cinta dalam Diam 1: Perpisahan

Cinta dalam Diam
“Udah, lu mau nunggu apa lagi?! Cepetan, samperin dia,” bujuk Dika sambil terus mendorongku. Aku masih mematung sembari terus menatap gadis berkacamata dan berkulit putih dengan rambut terurai yang sedang membaca sebuah buku di taman sekolah. Aduhai, cantik memang.
“Sampai kapan lu mau begini? Lu mau terus-terusan nyembunyiin perasaan lu sama Chaca, hah?!” lanjut Dika. “Cepetan lu samperin dia. Ajak dia kenalan. Ajak dia ngobrol.”
“Tapi aku harus ngapain, Dik? Emang Chaca mau kenalan sama aku yang…”
“Oke, gue tahu lu agak culun. Tapi nggak ada salahnya buat nyoba kan?”
Aku menarik nafas panjang, lantas menghembuskannya. Kuanggukkan kepala pada Dika. Dia mengacungkan jempol. Aku pun melangkah mendekatinya. Jantungku berdetak semakin tak karuan. Ibarat genderang yang terus dipukul hingga robek.
Kini aku sudah berada di dekatnya. Kuhembuskan nafas panjang sambil membenarnkan posisi kacamataku yang katanya mirip spion motor kuno.
“Hai, Chaca.” Aku melambaikan tangan. Chaca hanya memandangku dengan tatapan aneh. Lagi, detak jantungku semakin tak terkendali.
Sorry, numpang lewat, Ca.” Akhirnya kalimat itu yang keluar, mengantarkan langkahku menjauhinya.
“Gimana? Lu bialang apa sama dia? Respon dia gimana?” tanya Dika penuh selidik.
Aku menggeleng. “Aku nggak bisa, Dik.”
“Aduh, keluarin keberanian lu. Sampai kapan lu nyimpen perasaan lu, Za. Lu mau terus-terusan cinta diam-diam?”
Sudah lama aku menyimpan perasaan itu pada Chaca, si anak baru. Perasaan pada pandangan pertama. Tapi entah mengapa, setiap kali aku dekat dengannya, aku tak bisa mengeluarkan banyak kata. Aku hanya bisa memandangnya dan terus memandangnya. Sengaja aku selalu duduk di dekat jendela agar aku bisa melirik dia yang tengah belajar di kelas seberang. Meski tak jarang, guru menghukumku.
Aku juga hanya bisa terus mengikutinya saat jam istirahat, tanpa mendekat, apalagi bercakap. Padahal sudah dua bulan ini aku berlatih di depan cermin untuk sekadar berkata, “Hai, Cha. Boleh kenalan nggak? Namaku Reza, anak XI-IPA 4.” Aku terus berlatih hingga kakakku mengira aku sudah gila. Ya, aku memang gila. Gila karena perasaan ini.
Apa benar ini namanya jatuh cinta diam-diam?
Kata Dika, orang yang jatuh cinta diam-diam tahu dengan detail semua informasi orang yang dia taksir.[1] Aku emang tahu banyak tentang Chaca. Aku tahu nama lengkapnya Aulia Chantika Putri. Aku juga tahu alamat rumahnya, nomor teleponnya, tanggal lahirnya, warna kesukaannya, jam pulangnya, bahkan sampai hal yang nggak penting kayak nomor sepatunya. Sengaja kukumpulkan semua informasi itu agar aku bisa berkenalan dengannya. Tapi semuanya nihil.
Hampir semua orang yang jatuh cinta diam-diam pernah menelepon orang yang mereka taksir dan langsung menutup teleponnya kembali. [2] Aku pun melakukan hal yang sama. Setiap akhir pekan selama sebulan terakhir ini, aku selalu meneloponnya. Saat telepon itu terjawab, aku langsung menutupnya kembali.
“Lu kenapa langsung nutup teleponnya, Za?” tanya Dika yang kebetulan menginap akhir pekan ini.
“Aku bingung mau ngapain, Dik.”
“Ya, lu ngomong dong,” jawab enteng Dika. “Lu udah latihan berkali-kali kan?”
Aku mengangguk. “Tapi, aku nggak bisa ngomong itu, Dik.”
Setelah itu, pasti aku hanya termenung menatap layar HP yang kosong dengan penuh sesal.
Hari demi hari berganti, yang bisa aku lakukan hanya memenuhi buku-buku catatanku dengan huruf R-C. Ya, Reza-Chaca. Aku membayangkan seandainya saja aku bisa berkenalan dengannya. Lantas apa yang terjadi? Aku hanya bisa tersenyum melihat inisial yang memenuhi setiap buku catatanku.
Akhirnya, dengan ketidaksengajaan hal itu bisa terjadi. Chaca melihat saat aku membuntutuinya.
“Hei, kamu Reza anak XI-IPA 4 itu kan?” tanya dia, berbalik arah. Darimana dia tahu namaku? Aku kira tak ada yang mengenalku di sekolah ini. Maklumlah, aku terkenal sebagai anak yang tidak terkenal.
Hatiku seketika berbunga. “Iya, Ca.”
“Kamu kenapa ngikutin aku terus?”
Matilah aku! Dia tahu. “Nggak, Ca. Kebetulan aja waktu aku mau ke kantin, eh kamu ada di depanku.”
“Oh…,” jawabnya. “Kenapa nggak nyapa-nyapa gitu kek? Kan tiap hari ketemu.”
Aduhai, ternyata dia orang yang ramah. Dia nggak marah sama sekali saat aku mengikutinya tiap hari. Malah dia ngajak jalan bareng waktu itu. Seketika aku berasa kayak terbang menuju awan dan main prosotan di pelangi.
Sampai di rumah, aku bercerita pada Dika. Reflek kupeluk dia karena rasa bahagiaku. Dan sukses aku dicap sebagai homo yang aneh oleh kakakku.
Sejak saat itu, aku dan Chaca sering ngobrol bareng saat di kantin. Dan ternyata dia penggemar film barat. Aku hanya bisa tersenyum sambil mengiyakan apapun yang dia katakan. Ya, aku sama sekali tak mengerti film barat.
“Udah akrab, kini saatnya lu nembak dia.” Dika memberi masukan.
“Hah? Nembak?”
“Iya, lu masih nyimpen perasaan cinta lu pada dia kan?”
Aku mengangguk. Iya Dik, aku masih nyimpen semua itu, tapi mana mungkin aku mengungkapkannya? Berkenalan saja secara tak sengaja.
Aku pun terus memikirkan perasaan itu. Dan pada dua bulan ini, aku berlatih di depan cermin bilang “Ca, sudah lama aku suka sama kamu. Mau nggak jadi pacar aku?” Tapi lagi-lagi aku tak bisa.
Pernah aku mencoba akan menembak dia dengan hadiah coklat. Tapi, apadaya, aku tak sanggup. Hasilnya, hanya coklat yang kuserahkan.
Beberapa bulan berselang. Kabar itu datang.
“Jadi kamu beneran mau pindah?” tanyaku saat makan siang di kantin bersamanya.
Dia mengangguk. “Ya, mau gimana lagi. Papah aku selalu pindah tugas. Setiap kali aku punya teman akrab, pasti begini. Harus pindah.”
Hening sejenak. Aku berpikir, inikah saatnya aku menyatakan perasaanku?
Aku mulai membuka mulut, “Em, Ca,…”
“Iya?”
“Kapan kamu pindah?” Aduh, mangapa kalimat itu yang keluar?!
“Besok pagi aku harus berangkat,” jawabnya pelan.
“Jadi…”
“Ya, ini adalah hari terakhir aku bersekolah di sini,” sahutnya.
Pulang sekolah, aku segera menceritakannya pada Dika. “Nanti malam kamu harus ke rumahnya. Beri dia hadiah yang spesial,” saran Dika.
Aku menuruti saran Dika. Malam harinya aku pergi kerumahnya, membawa sesuatu untuknya.
“Eh, kamu Za, ada apa?” tanyanya setelah membuka pintu.
Aku menyodorkan sebuah boneka penyu padanya. “Terimalah, Ca. Buat kenang-kenangan dari aku.”
“Wah, makasih, Za. Kamu memang sahabat terbaik aku. Meski kita baru beberapa bulan kenal. Tapi kau sudah jadi sahabat terbaik aku di sini.”
Aku hanya tersenyum. Sahabat? Ca, sebenarnya aku ingin kita lebih dari sekadar sahabat. Tapi, berkenalan dengan gadis secantik dan seramah dirimu dalam waktu singkat ini kurasa sudah cukup.
Hei, mengapa aku memberinya sebuah boneka penyu? Kalian tahu, penyu adalah binatang paling setia di dunia. [3] Seekor telur penyu akan akan menetas dalam gundukan pasir. Kemudian anak penyu itu merangkak menuju laut bebas. Sejak kecil sudah ditanamkan perasaan setia itu. Mengenali aroma lingkungan tempatnya dilahirkan. Mengenali udara, suhu, matahari, angin yang berhembus, setiap jengkal muasal mereka. [4] Aku ingin Chaca selalu ingat padaku dan kembali lagi menjadi sahabat di sini. Ya, sahabat. Meski terkadang aku menyesal, mengapa tak lebih dari itu.
Pada akhirnya, orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa mendoakan. Terkadang yang kita inginkan bisa jadi yang tidak sesungguhnya kita butuhkan. Dan sebenarnya, yang kita butuhkan hanya merelakan. [5]
Jangan lupakan aku, Ca, sebagai sahabatmu.
***
Footnote:
[1] Raditya Dika, Marmut Merah Jambu, Bukune, Jakarta, 2014 hlm. 3.
[2] Raditya Dika, Marmut Merah Jambu, Bukune, Jakarta, 2014 hlm. 7.
[3] Tere Liye, Sunset Bersama Rosie, Mahaka Publisher, Jakarta, 2011.
[4] Tere Liye, Sunset Bersama Rosie, Mahaka Publisher, Jakarta, 2011.
[5] Raditya Dika, Marmut Merah Jambu, Bukune, Jakarta, 2014 hlm. 15.